29 Januari 1983
Empat puluh tiga tahun lalu,
di bawah langit yang menjadi saksi,
dua insan mengikat janji
bukan hanya pada kata,
tapi pada Allah yang Maha Mengetahui isi hati.
Ijab itu telah lama terucap,
namun gaungnya tak pernah benar-benar selesai,
ia hidup di setiap sabar yang ditahan,
di setiap maaf yang didahulukan,
di setiap doa yang diam-diam dikirimkan
di sepertiga malam yang sunyi.
Pernikahan ini bukan tentang hari-hari mudah,
tapi tentang tetap menggenggam
saat dunia terasa goyah,
tentang tetap memandang satu arah
meski jalan berliku dan penuh ujian.
Ada rezeki yang dibagi dengan syukur,
ada sempit yang dilalui dengan tawakal,
air mata yang jatuh jadi saksi
bahwa cinta tak selalu berupa tawa,
kadang ia menjelma sujud yang lebih lama dari biasanya.
Ya Allah,
Engkau yang menautkan dua hati ini,
Engkau pula yang menjaga
agar cinta tak hanya tumbuh di mata,
tapi berakar dalam iman.
Jika dulu kami belajar saling mencintai,
kini kami belajar saling mengantarkan
lebih dekat kepada-Mu.
Sebab tujuan akhir dari bersama
bukan hanya menua berdua,
tapi pulang… dengan ridha-Mu sebagai pelita.
Empat puluh tiga tahun telah berlalu,
namun doa ini tetap sama:
jadikan rumah ini sakinah,
penuh mawaddah yang lembut,
dan rahmah yang tak pernah putus
hingga pertemuan kami kelak
tak hanya di dunia,
tapi juga di surga-Mu.
Aamiin.
Makassar, 29 Januari 2026
*Ardhy M Basir – Walasari*












