Tanda-Tanda Batiniah Rasulullah

Rasulullah
Ilustrasi

Bahira — pendeta yang hidup di biara itu — benar-benar menguasai kandungan manuskrip tersebut. Ramalan itu membuatnya sangat tertarik karena — seperti Waraqah (cendekiawan sepuh dan buta, ahli kitab Nasrani dari suku Quraisy yang menjadi orang pertama yang mengimani kerasulan Nabi Muhammad saw saat wahyu pertama turun) — dia merasa yakin nabi tersebut akan datang pada masa hidupnya.
Benar juga, setelah melalui berbagai rentetan peristiwa dan menyaksikan kehadiran seorang anak laki-laki yang baru berumur 9 tahun, meskipun ada juga yang menyebut 12 tahun, Pendeta Bahira pun bertitah.

“Bawalah anak saudaramu ini kembali ke negerinya, dan lindungi dia dari kaum Yahudi. Demi Tuhan, kalau mereka melihatnya dan tahu seperti aku mengenalnya, akan berbuat jahat terhadapnya. Anak saudaramu itu kelak akan menjadi orang besar”.

Setelah kejadian itu, Muhammad mulai mengalami tanda-tanda kekuatan batiniah yang mendukung tanda-tanda lain yang telah dia sadari sebelumnya.

“Mimpi yang benar. Itu bagaikan kilatan cahaya,” jawab Muhammad saat ditanya mengenai tanda-tanda tersebut.

BACA JUGA:  Perayaan Natal API Sulsel Berlangsung Meriah

Mimpi-mimpi itu membuat Muhammad lebih sering menyendiri. Beliau pergi melakukan penyendirian spiritual (tahannuts — suatu bentuk ibadah yang dilakukan dengan cara menyendiri dan mengasingkan diri untuk menghadap Allah agar terhindar dari gangguan duniawi). Lokasi yang dipilihnya adalah Gua Hira, gua kecil di puncak Jabal Nur, 6 km dari Masjid Haram Mekkah.

“Tahannuts” bukan sesuatu yang aneh bagi kaum Quraisy. Aktivitas menyendiri ini sudah menjadi praktik tradisional di kalangan nasab Ismail. Pada setiap generasi selalu ada satu atau dua orang yang mengasingkan diri ke tempat yang terisolasi dalam waktu sekian lama agar terhindar dari kontaminasi dunia manusia.

Dalam praktik “tahannuts” tersebut, Muhammad membawa berbagai perbekalan dan mengkhusukkan diri pada malam-malam tertentu untuk menyembah Tuhan. Setelah itu ia pergi ke keluarganya. Beliau akan kembali lagi ke bukit itu dengan membawa lebih banyak bekal.Selama beberapa tahun, saat meninggalkan kota dan menuju ke tempat meditasinya, beliau sering mendengar jelas ucapan.

“Assalam alaikum, wahai Utusan Allah (Rasulullah),” membuat beliau berbalik dan mencari orang dan arah suara itu. Beliau sadar, tidak melihat seorang pun. Seolah-olah kata itu berasal dari sebuah pohon atau batu.

BACA JUGA:  Ibu Hajjah Ingin Tampil Cantik, PPIH Makassar Sediakan Jasa Make Up Artis

Pada suatu malam menjelang akhir Ramadan — bulan yang biasa digunakan ber-”tahannuts” — dalam usia yang keempat puluh, saat beliau sedang sendiri di dalam gua, datang kepadanya seorang malaikat dalam rupa manusia.