MCT yang dilahirkan 4 Januari 1800 dan meninggal dalam usia muda, 2 Januari 1818) adalah seorang gadis dari negeri Abubu di Nusalaut, Maluku Tengah. Pada usia 17 tahun ia ikut mengangkat senjata melawan tentara kolonial Belanda. Ayahnya, Kapitan Paulus Tiahahu, seorang kapitan dari negeri Abubu yang membantu Thomas Matulessy dalam Perang Pattimura pada tahun 1817.
MCT berjuang untuk melepaskan ayahnya dari hukuman mati. Namun dia tidak berdaya dan melanjutkan perjuangannya di hutan. Ia kemudian ditangkap dan hendak diasingkan ke Pulau Jawa. Saat itulah dia jatuh sakit dan menolak diobati Belanda.
Di Kapal Perang Eversten , MCT menghembuskan napasnya yang terakhir. Dengan penghormatan militer, jenazahnya diluncurkan di Laut Banda, tepatnya di antara Pulau Buru dan Pulau Manipa, 2 Januari 1818. Untuk menghormati pengorbanannya, pemerintah mengukuhkan dia sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 20 Mei 1969. Dan, saya menikmati makan “patita” di samping patungnya.
Usai makan “patita” di samping Patung MCT saya ke penginapan di tengah kota. Pada malam hari, saya ke toko, tidak jauh dari pengunapan hendak membeli jarum. Pada toko yang pertama ketika menyampaikan maksud, saya menerima jawaban dari pemilik toko,”seng ada”. Saya mencoba pada toko kedua dan ketiga, jawabannya sama “seng ada”.
Menerima jawaban yang sama dari tiga toko yang berbeda, saya bertanya-tanya dalam hati.
“Mengapa mereka mengatakan “seng ada?”.
Keesokan hari, Wim Pattikawa, wartawan Harian “Pedoman Rakyat” di Ambon, saya ceritakan pengalaman ini. Barulah saya maklum bahwa “seng ada” berarti “tidak ada”. Saya kemudian sadar bahwa para penjual tidak akan pernah atau tabu menjual jarum pada malam hari.
Wacana Verbal
Membaca buku Rusdin Tompo ini — meskipun baru sebagian kecil — saya merasa bagaikan sedang mendengar cerita verbal (lisan) seorang narator yang bertutur tentang pengalamannya. Kisah-kisah di dalam buku ini jika dibaca, para pendengar akan terbawa ke tengah suasana “Ambon banget”. Kita membayangkan sedang berada di tengah komunitas masyarakat Ambon dengan dialek khasnya yang sudah sangat populer.
Jadi, kalau membaca buku ini secara psikologis kita harus mampu mengubah rasa emosional melebur dan larut dalam nuansa Ambon yang kental. Hanya saja, penulis tidak menawarkan kisahnya yang bersifat anekdotis dan bernada humoristik memanfaatkan dialek Ambon yang kental itu. Jika mampu menemukan sisi humor dari setiap kisah, di sinilah daya tarik cerita di dalam buku ini dengan kemasan dialek Ambon yang sudah sangat familiar dengan pembaca buku tanah air.












