Sebagai pasukan penjaga perdamaian, UNIFIL tidak bertugas untuk berperang. Perannya lebih kepada menjaga stabilitas dan mencegah eskalasi konflik. Secara umum, tugas UNIFIL meliputi: Memantau penghentian permusuhan antara pihak yang bertikai. Mendukung penempatan tentara Lebanon di wilayah selatan. Mengawasi pelanggaran di sepanjang perbatasan. Membantu distribusi bantuan kemanusiaan dan pemulangan warga sipil
Selain itu, UNIFIL juga berperan dalam membersihkan ranjau darat, membantu warga terdampak konflik, serta memastikan wilayah operasinya tidak digunakan untuk aktivitas militer ilegal. Meskipun memiliki mandat luas, pasukan ini tetap dibatasi aturan keterlibatan (rules of engagement), yang umumnya hanya memperbolehkan penggunaan kekuatan untuk membela diri atau melindungi warga sipil.
UNIFIL merupakan salah satu misi penjaga perdamaian terbesar PBB. Pasukan ini terdiri atas lebih dari 10 ribu personel yang berasal dari sekitar 47 negara.
Negara-negara kontributor utama antara lain Indonesia, Italia, India, Nepal, hingga Malaysia. Indonesia sendiri termasuk salah satu penyumbang pasukan terbesar dalam misi ini. Markas besar UNIFIL berada di Naqoura, Lebanon selatan, dengan area operasi yang mencakup wilayah antara Sungai Litani dan garis perbatasan dengan Israel. Hingga kini, mandat UNIFIL terus diperpanjang setiap tahun oleh Dewan Keamanan PBB, menandakan bahwa peran pasukan ini masih dianggap penting dalam menjaga stabilitas kawasan yang rentan konflik, meskipun Israel tetap membangkang dan bandel dengan melakukan penyerangan ke Lebanon selatan dan Gaza.
Setelah gugurnya tiga personel pasukan UNIFIL dari Indonesia itu, kini muncul pertanyaan. Mengapa justru personel TNI yang menjadi korban, padahal, terdapat 8.203 prajurit lain yang bertugas. Jika menilik 47 negara partisipan yang mengirim personel prajurit ke Lebanon, Indonesia termasuk negara yang dapat dikatakan sangat vokal mengutuk aksi negara zionis Israel menyerang Gaza dan Palestina selama ini.
Memang ada beberapa negara lain yang juga menentang agresi Israel ke Gaza dan Palestina, seperti Malaysia, dan Brunei Darussalam, namun tidak sekencang rakyat Indonesia mengutuk agresi Israel tersebut. Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia memang dianggap menjadi salah satu titik perhatian Israel secara senyap.
Tidak hanya itu, Indonesia pun tidak memiliki hubungan diplomatik dengan negara zionis Israel. Walaupun tidak memiliki hubungan diplomatik, tetapi agen mata-mata Israel, Mossad, ditengarai beroperasi di Indonesia secara senyap. Dalam sebuah catatan Gordon Thomas di dalam bukunya berjudul “Gideon’s Spies” Sejarah Rahasia Mossad (Pustaka Primatama Jakarta, 2008), disebutkan keterlibatan seorang ‘katsa’ (perwira intelijen lapangan Mossad) yang berkedudukan di Surabaya yang melaporkan kasus penggerebekan teroris asal Malaysia dr.Azahari Husin yang ditembak mati di Kota Batu Malang 9 November 2005. Katsa itu mengungkapkan bahwa Noordin M.Top, sahabat Azahari, sehari sebelum penggerebekan sudah meninggalkan Kota Batu. Nurdin M.Top sendiri ditembak mati oleh Densus 88 dalam penyergapan di Kampung Kepohsari, Mojosongo, Jepres Solo, Jawa Tengah 17 September 2009.












