Negosiasi, Harga Mati, dan Presisi (5): (Kisah Operasi Kepolisian Menyelamatkan Penculikan Bocah Asal Makassar)

Bocah
Salah seorang perwakilan SAD terharu melepas Bilqis kembali ke pangkuan orang tuanya. (Foto: Istimewa).

Hari Sabtu, 8 November 2025, terasa begitu lama bagi Nasrullah. Negosiasi yang sangat alot dan panjang terjadi hingga sore hari.

Pada saat itulah, mulai ada tanda-tanda mereka mau melepaskan Bilqis. Tetapi, persoalannya, Nasrullah tidak tahu di mana Bilqis berada. Tim Kepolisian masih meraba-raba keberadaannya. Namun Nasrullah mengatakan, ada yang menyampaikan bahwa lokasi tempat Bilqis ini berlapis-lapis. Pihak yang terkait dalam kasus keberadaan Bilqis ini cukup ‘birokratis’.

Sehingga, proses negosiasinya berlangsung lama. Jadi seolah-olah ada “beberapa pintu” yang harus dilewati dalam memutuskan nasib si bocah tersebut sebelum dilepaskan ke Tim Kepolisian.

“Ini merupakan ujian kesabaran,” ujar Nasrullah.
Akhirnya, menjelang magrib, Sabtu 8 November 2025 itu, Nasrullah memperoleh informasi. Pihak SAD siap memenuhi keinginan Tim Kepolisian. Nasrullah menduga mereka sudah capek terus diberondong desakan dari tim Kepolisian yang dipimpinnya. Juga, termasuk prinsip tim yang bernuansa ‘ancaman’. Prinsip Nasrullah yang tegas, harga mati harus pulang dengan Bilqis.

Akhirnya, mediator keluar menemui Nasrullah lagi.
“Boleh diambil, tetapi jangan yang dari Makassar yang mengambil,” kata Nasrullah menirukan kalimat mediator tersebut. Dalam hati Nasrullah bersyukur bahwa negosiasi dua malam satu hari itu berhasil.

BACA JUGA:  Negosiasi, Harga Mati, dan Presisi (4): (Kisah Operasi Kepolisian Menyelamatkan Penculikan Bocah Asal Makassar)

Nasrullah menduga, jika tim Makassar yang menjemput langsung Bilqis, mereka mungkin takut juga ditangkap ketika itu. Yang masuk ketika itu, dua kepala suku, dan dua orang dari Dinas Sosial. Jadi Tumenggung bersaudara itu masuk kembali.

Ternyata, Bilqis disimpan di SAD yang paling dalam (jauh dari lokasi jalan raya).

“Jadi kita COD (‘cash on delivery’ — ‘bayar di tempat’). Tim dari Dinas Sosial dan dua Temenggung yang ke dalam, kami jemput juga agak ke dalam supaya tidak terlalu jauh berjalan,” kata Nasrullah yang akhirnya bertemu di pertengahan jalan dengan empat orang yang membawa Bilqis.

COD, maksud Nasrullah, tim menerima Bilqis di tempat tim menunggu. Soalnya, Nasrullah tidak diperkenankan masuk hingga ke bagian paling dalam lokasi SAD.

Sebelum rombongan Bilqis dan Nasrullah yang menjemput di tengah perjalanan dari dalam hutan, anggota tim lain menunaikan salat Isya di salah satu masjid yang menjadi tempat “bayar di tempat” itu. Lumayan lama juga tim menunggu. Kesabaran baru diuji lagi. (Bersambung).