Negosiasi, Harga Mati, dan Presisi (5): (Kisah Operasi Kepolisian Menyelamatkan Penculikan Bocah Asal Makassar)

Bocah
Salah seorang perwakilan SAD terharu melepas Bilqis kembali ke pangkuan orang tuanya. (Foto: Istimewa).

Kedua Tumenggung itu kembali masuk sampai ke dalam. Ke lokasi yang diperkirakan Bilqis berada. Selama bernegosiasi, Tim Kepolisian tidak pernah melihat Bilqis. Juga tidak tahu, siapa yang mengamankan buah hati pasangan Dimas-Pipi Syahrir tersebut.

“Sehingga, kita (tim) harus fleksibel. Menunggu dan sabar untuk mendapatkan solusi terbaik,” ujar Kasat Reskrim Polsek Panakkukang Makassar itu.

Kepada dua Tumenggung yang menjadi mediator, Nasrullah selalu berpesan, mohon dibantu mengembalikan Bilqis.
“Kita belum ‘connect’,” kata kedua Tumenggung saat muncul di depan Nasrullah, setelah menghilang beberapa saat untuk bernegosiasi dengan Kepala SAD tempat Bilqis berada.

Ternyata, Kepala Suku yang mengambil Bilqis itu bernama “Bagendang”. “Bagendang” sendiri sebenarnya merujuk pada alat musik atau memainkan gendang atau sejenis alat musik perkusi dalam budaya SAD. Juga dikenal sebagai ritual dan tradisi suku ini.

Nasrullah berkomunikasi di tempat dia menunggu dengan penghubung lagi. Jadi, saat berkomunikasi dengan dua Tumenggung dan seorang dari Dinas Sosial masih dilakukan sendiri karena anggota tim lain menunggu di sebuah masjid.

BACA JUGA:  Serasa Narasi Verbal: Catatan Kecil atas “Ana Makassar Basar di Ambon” Rusdin Tompo

Begitulah “diplomasi” bolak-balik dua Tumenggung dan Dinas Sosial dengan Nasrullah terjadi beberapa kali. Setiap para perunding itu muncul di hadapannya, Nasrullah menyampaikan, tetap pada prinsipnya harus membawa pulang anak yang diculik itu.

“Saya terus meyakinkan lagi. Ini anak diculik. Bukan anak yang mau diadopsi,” kata lulusan salah satu Pesantren di Takalar ini.

Akhirnya, dua Tumenggung itu muncul dan berkumpul lagi. Melalui tim perunding, Tim Kepolisian menyampaikan pesan yang agak keras.

“Kami tidak akan pulang kalau tidak membawa Bilqis. Ini akan menjadi bumerang di antara kalian. Intinya, harga mati bagi kami harus membawa pulang Bulqis. Ini bukan main-main,” Nasrullah dengan tegas mengatakan kepada para kepala suku itu dan lalu meninggalkan mereka.

Tokoh SAD bernama Tumengung Sikar mengatakan, Bilqis ditemukan di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, bersama Bagendang dan Ngerikai, yang merupakan anak dari Tumengung Sikar.

Saat itu, MA datang membawa seorang anak kepada pasangan Bagendang dan Ngerikai untuk diadopsi. Namun hal ini awalnya tanpa sepengetahuan Tumengung Sikar.

BACA JUGA:  Negosiasi, Harga Mati dan Presisi (2) (Kisah Operasi Kepolisian Menyelamatkan Penculikan Bocah Asal Makassar)

Kepada warga SAD, MA mengaku memiliki surat resmi bermaterai Rp10 ribu dari orang tua Bilqis. Kata Tumengung Sikar, orang itu juga menyatakan siap bertanggung jawab jika terjadi hal yang tidak diinginkan.

“Ada informasi anak mau adopsi atau mau dititip, kami tidak tahu Dia (pelaku) datang sini. Anak aku (Ngerikai dan Bagendang) bilang, daripada anak ini dilempar ke mana, lebih baik dia yang ngerawat,” ungkapnya, dikutip dari Tribunnews.