Uang Rp 85 juta yang diserahkan kepada pelaku, merupakan hasil berkebun selama setahun dan jual beli babi serta bekerja serabutan lainnya.
Bagendang, salah satu sosok Orang Rimba SAD Kabupaten Merangin Provinsi Jambi angkat bicara soal kasus penculikan Bilqis.
Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi meminta publik untuk melihat persoalan ini secara utuh. Robert Aritonang, Antropolog KKI Warsi mengatakan, SAD terrnasuk pihak yang dirugikan secara sosial puluhan tahun. Mereka kehilangan hutan yang kini sudah menjadi sumber kehidupan mereka.
“Saat ini lokasi tersebut sudah berubah menjadi ruang dan konsesi, Mereka kehilangan akses terhadap pangan dan sumber penghidupan,” jelas Robert 10 November 2025 yang dikutip dari salah satu “podcast” media sosial.
Berdasarkan keterangan Bagendang kepada KKI Warsi, istrinya didatangi oleh seorang perempuan dari Komunitas yang membawa anak kecil yang bernama Bilqis.
Orang luar itu mengatakan, anak tersebut berasal dari keluarga tidak mampu dan meminta tolong agar dipelihara.
Penyerahan anak itu disertai meterai Rp 10.000 yang konon — disebutkan — ditandatangani ibu kandung Bilqis. Isi pernyataan, anak tersebut diserahkan secara sukarela dan tidak akan ada tuntutan di kemudian hari.
Namun hanya dua hari setelah anak itu berada di kelompok mereka, kabar mengenai penculikan anak tersebut tersebar luas di media sosial.
Bagendang pun segera menyerahkan anak tersebut kepada pihak berwewenang. KKI Warsi mengatakan, Orang Rimba tidak terlibat dalam kasus ini. Mereka menjadi korban struktural dan hilangnya wilayah hidup mereka. Ada pihak yang memanfaatkan mereka dengan narasi palsu, janji ekonomi atau bujukan. Orang Rimba dijadikan alat kejahatan yang mereka sendiri tidak pahami.
Robert mengharapkan, kasus Bilqis menjadi momentum untuk menempatkan Orang Rimba secara menyeluruh dan dalam rangka pemulihan nyata dengan dimulai dengan memperluas akses pendidikan, dengan dasar atas pengakuan hak atas wilayah hidup mereka.
Meskipun sudah mengidentifikasi pihak yang mengambil dan menyimpan Bilqis, namun tim harus bekerja ekstra hati-hati dan penuh dengan ketelitian.
Menjaga kemungkinan terburuk yang bisa berakibat fatal. Khususnya bagi keselamatan bocah tersebut. Tim harus dalam posisi kesabaran tinggi dalam bernegosiasi untuk memperoleh solusi terbaik menuntaskan kasus penculikan anak pasangan Dimas-Pipi Syahrir tersebut.
“Dalam negosiasi yang alot dan berlangsung 2 malam sehari itu, kita harus banyak bersabar,” ungkap Nasrullah. (Bersambung).












