MA dan AS, suaminya, berusaha mengelak. Namun Tim Kepolisian meyakinkan bahwa semua informasi mengenai penculikan bocah asal Makassar ini sudah di tangan Kepolisian. Nasrullah menegaskan kapada MA, dua pelaku sudah diamankan. SY dan NH.
“Kau ngomong yang jujur. Dibantulah, tidak dipersulit nantinya,” kata Nasrullah diplomatis dan taktis.
Dalam video yang beredar, tim memasuki sebuah rumah. Tampak MA yang serta merta. kaget melihat banyak orang berpakaian preman menghambur di depannya. Petugas kemudian mendesak di mana anak yang dia ambil.
“Mana anaknya? Mana???,” desak petugas preman yang muncul di dalam rumah pasangan suami istri ini.
“Tidak ada kami mencuri anak, Pak,” MA berusaha mengelak.
Namun petugas tidak begitu mudah percaya. Tim sudah memegang keterangan perempuan NH di Sukoharjo.
“Di mana itu anak?,” desak petugas.
“Tidak ada di sini?,” jawab MA.
“Di mana disimpan. Di mana?,” kejar anggota tim lagi.
“Ada. Ada,” MA mulai melunak setelah tim terus mencecarnya.
Suaminya pun tidak kalah gesit membantah dengan bersumpah serapah.
“Demi Allah. Demi Rasulullah,” pekiknya hendak menyakinkan petugas.
Namun, Tim Polrestabes Makassar yang dibantu penuh personil Kepolisian Jambi tidak mudah percaya begitu saja keterangan suami MA.
“Minta ampun. Minta maaf, Pak. Bahkan kami tidak tahu, Pak. Kami mau ambil anak itu aman, Pak,” sergah MA berapi-api.
“Mana teman kamu di sini?,” desak petugas.
“Tidak ada teman aku di sini,” tangkis perempuan berkulit putih itu.
“Dengan siapo (siapa)?),” seorang petugas yang tampaknya dari Jambi bertanya dengan logat lokal.
“Kami berduo. Tidak ada siapo-siapo,” tangkis MA.
“Ini rumah siapo?,” desak petugas itu lagi.
“Ini rumah kakak kami, Pak,” jawab MA.
Pasangan ini pun akhirnya jujur mengakui kalau Bilqis sudah dijual ke warga Suku Anak Dalam (SAD).
Tim Polrestabes Makassar yang didukung Kepolisian Jambi terus mendesaknya untuk memastikan keberadaan Bilqis.
Pada awalnya, kata Nasrullah, sempat ragu dan tidak percaya dengan SAD bisa ‘membeli’ Bilqis dengan harga Rp 80 juta. Tidak masuk akal.
Ternyata, setelah tim mencari tahu, penghasilan mereka bersumber dari berkebun dan menjual kelapa sawit dan tambang emas.
“Jadi, masuk akallah untuk bisa mengeluarkan uang sebanyak itu,” imbuh Iptu Nasrullah dalam wawancara dengan penulis.
Setelah berhasil ditangkap, dalam pengembangan kasus terungkap kalau keduanya mengaku sudah pernah menjual 9 bayi dan seorang anak melalui media sosial Tiktok dan WatsApp.
Setelah memperoleh penjelasan dari pasangan suami istri AS-MA, tim Kepolisian langsung menuju Mentawak yang masuk dalam wilayah Kecamatan Nalo Tantan Kabupaten Merangin Provinsi Jambi.












