Terutama dikaitkan datangnya lailatul kadar. Para dai dan penceramah tarawih selalu mengatakan bahwa malam lailatul kadar itu akan jatuh pada setiap malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadan.
Malam lailatul kadar adalah malam lebih barik dari 1000 bulan, saat malaikat akan turun membawa keberkahan dan takdir tahunan.
Dalam catatan, malam ganjil ketika lailatul kadar itu turun ditandai dengan suasana tenang dan pagi yang cerah tanpa terik. Momen ini dianjurkan diisi dengan ibadahm iktikaf, dan doa.
Keutamaan lailatul kadar ini sebagaimana Allah swt berfirman di dalam Alquran pada surah Al Qadr sebagai malam yang penuh rahmat, ampunan, dan lebih baik dari 1000 bulan. Waktu terjadinya, malam ganjil itu tadi, 21, 23, 25, 27, 29.
Amalan utama yang dianjurkan adalah meningkatkan ibadah dan salat malam (tahajud, witir) dan iktikaf.
Memperbanyak membaca Alquran. Membaca doa khusus “Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa’fu anni” (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku). Juga diisi dengan bersedekah.
Salah satu hadis yang menjadi rujukan banyak kiai tentang Lailatul kadae ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Ubay bin Ka’ab yang mengatakan dan artinya:” Malam itu adalah malam yang cerah, yaitu malam kedua puluh tujuh (bulan Ramadan).
Dan tanda-tandanya ialah pada pagi hari matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinarnya ke segala penjuru”. (HR Muslim No.762 dari Ubay bin Ka’ab).
Nah, persoalannya sekarang di Indonesia jika merujuk pada malam-malam ganjil tersebut, malam ganjil menurut versi Muhammadiyah atau versi pemerintah.
Masalahnya, jika versi Muhammadiyah jelas malam ganjil sudah dihitung dari awal mula puasa Ramadan.
Begitu pun dengan versi pemerintah, malam ganjilnya berbeda dengan Muhammadiyah. Kalau begini, malam lailatul kadar bisa bingung?
Selamat menjalankan ibadah puasa. Juga selamat berpikir tentang malam lailatul kadar itu. Wassalam!












