Setelah itu, Yusril pun menulis biografi Pak Natsir dalam bahasa Inggris dan menyebutnya sebagai “Combining activism and intelectualism” . Beliau ada antitesis dari definisi intelektual murni, ala Julien Benda yang berdiri di menara gading.
Julien Benda adalah seorang pemikir berasal dari komunitas Yahudi-Prancis. Pemikirannya, ialah tentang kaum intelektual yang ideal dan penghianatan intelektual. Salah satu karyanya yang terkenal adalah “La Trahison des Clercs”. Dia menerima kritik dari pemikir lain seperti Antonio Gramsci dan dan Edward Said,
“Seandainya tidak terlibat dalam politik praktis, Pak Natsir mungkin akan lebih hebat dari Muhammad Iqbal (1877-1938),” kata Yusril pada suatu kesempatan.
“Ya, itulah perjalanan hidup manusia, siapa yang bisa menduga,” jawab Pak Natsir sambil tertawa. Sebuah kearifan yang mengajarkan Yusril tentang penerimaan takdir (qada dan qadar) di tengah kehendak bebas manusia.
Ketika kuliah di Universitas Indonesia, Yusril berkuliah rangkap. Di Fakultas Hukum dan di Fakultas Sastra Jurusan Filsafat. Dia juga belajar tafsir dan fikih di IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di UI, Yusril melanjutkan pendidikan magister dan doktor.
“Perjalanan meraih ‘gelar doktor’ saya pun penuh drama,” kata Yusril.
Awalnya, dia ingin ke Cornell University, New York. Yusril sudah menemui George McTurnan Kahin, akademisi besar itu. Rencana ini kandas terkendala beasiswa.
Dia pun membidik University of the Punjab, Lahore, Pakistan. Sistemnya riset murni tanpa berkuliah. Mirip sistem di Inggris. Yusril mulai melakukan riset tentang Muhammad Iqbal dan belajar bahasa Urdu.
Muhammad Iqbal adalah seorang penyair, filsuf, dan politikus besar dari anak benua India yang dihormati sebagai “Bapak Spiritual Pakistan dan penyair nasional Pakistan. Ia menginspirasi Gerakan Pakistan dengan visi negara merdeka bagi umat muslim.
Situasi memanas karena konflik Afghanistan. Mahasiswa di sana, kata Yusril, bawaannya ingin perang saja. Yusril merasa tidak kondusif dengan suasana kampus seperti itu dan memilih balik ke Jakarta.
Nasib baik kembali mempertemukan Yusril dengan Kahin di Jakarta. Akademikus terkenal asal Amerika Serikat itu menyarankan Yusril ke Universitas Sains Malaya (USM) dengan rekomendasi dua tokoh besar, Pak Natsir dan Sutan Takdir Alisjahbana.
“Kok, bisa Anda dapat rekomendasi dari orang-orang hebat ini,” pihak universitas yang kaget melihat dua nama itu beranya.
“Saya memang kenal baik dengan beliau-beliau,” jawab Yusril sambil tersenyum.












