Catatan Tercecer dari Reuni Alumni UIN Alauddin di Bima (4): Prof. Muslimin: Tak Ingin Berpanas-panasan

Prof.Dr.Muslimin H.Kara, M.Ag.
Prof.Dr.Muslimin H.Kara, M.Ag.

Muslimin mencatat baik-baik. Tahun 1992 masuk IAIN Alauddin selesai 1996. Dia menjadi mahasiswa yang pertama selesai dalam waktu 4 tahun di Fakultas Syariah. Ketika itu banyak yang selesai dalam waktu 5 tahun. Selesai bulan November 1996, masuk September 1992. Pak Maksum Rui, temannya di HMI dulu, aktivis juga, mantan Senat Mahasiswa Fakultas Syariah. Karena ingin bersama Muslimin dia menunda wisudanya. Dia mengajar yang terbaik. Muslimin maju, satu-satunya angkatan 1992,
Prof. Hamzah Hasan sudah menjadi dosen ketika itu, 1996, saat Muslimin menjadi alumni terbaik. Oleh sebab itu, diberikan amanah mengajar bahasa Arab satu semester.

Tahun 1997 Muslimin ikut tes S-2 dan alhamdulillah lulus di Jakarta dengan beasiswa sampai 1999. Wisuda hari Sabtu, Senin Muslimin sudah mendaftar S-3 lagi. Dia menjalani pendidikan doktor mulai tahun 1999 dan selesai 2003.

“Saya doktor dalam usia 30 tahun dan alumni termuda. Melalui Prof. Thib Raya karena selalu berkomunikasi dengan beliau sebagai ayah sekaligus mentor. Termasuk Prof Musdah Mulia sebagai pembimbing ketika S-2,” Prof.Muslimin mengenang masa-masa pendidikannya .

BACA JUGA:  Negosiasi, Harga Mati, dan Presisi (5): (Kisah Operasi Kepolisian Menyelamatkan Penculikan Bocah Asal Makassar)

Dia juga menyaksikan keduanya (Prof. Thib dan Prof Musdah) menjadi doktor dan saat itu sudah di Jakarta. Ketika selesai S-3, Muslimin ditawari Pak Ayumardi Azra (Prof. Dr., almarhum) tinggali di Jakarta. Dia mengetahui Muslimin merupakan doktor pertama dalam Hukum Islam. Namun Muslimin menolak. Sebab, kalau menerima itu sama dengan tidak tahu berterima kasih kepada IAIN Alauddin.

Muslimin juga menuturkan, ketika S-1 tidak banyak terlibat dalam dinamika organisasi. Nanti terlibat ketika di Senat.

Hal ini disebabkan dia memperoleh beasiswa Surat Perintah Sebelas Marat (Supersemar) mulai dari semester II, III hingga sarjana, sehingga harus fokus belajar.

Setelah meraih gelar doktor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dia langsung kembali ke Makassar pada tahun 2003 itu juga. Seiring berjalannya waktu, dia menjabat Guru Besar tahun 2019 pada saat berusia 48 tahun. Sampai sekarang sudah berusia 55 tahun dengan masa dinas sampai 70 tahun.

Yang Muslimin catat betul kenapa bisa berhasil. Pertama adalah niat. Juga karena motivasi. Karena niat yang kuat dan karena merasa dia tidak bisa bekerja, tidak bisa panas-panasan, hingga berkomitmen fokus di bidang pendidikan. Dari awal memang, sejak berkuliah ingin menjadi dosen. Jadi, dia konsern betul.

BACA JUGA:  Negosiasi, Harga Mati, dan Presisi (4): (Kisah Operasi Kepolisian Menyelamatkan Penculikan Bocah Asal Makassar)

Seperti Prof.Thib Raya, Muslimin tidak melaluinya seperti itu. Dinamikanya sudah berbeda. Setelah meraih gelar doktor Muslimin belum punya istri.