Insha Allah pada bulan April akan dikirim ke MenPAN RB dibahas dan disetujui organisasinya. Rektor dan wakil rektornya siapa. Di bawah kepala biro dan kepala bagiannya berapa. Setelah disetujui di situ baru diajukan ke Mensesneg untuk diserahkan ke Presiden untuk izin institusi.
Pada waktu yang lalu setelah menyerahkan sertifikat atas nama Kementerian Agama ke Sekjen, besoknya Pak Menteri langsung melapor ke Komisi VIII DPR RI bahwa ada dua PT IAIN akan didirikan di Indonesia, yakni IAIN Bima dan IAIN. Moho doa restu kita semua agar ini bisa berjalan lancar dan cepat diterima oleh pemerintah.
Dari kami sembilan tim inti, ada akta notaris, 4 di antaranya alumni IAIN Alauddin. Profl Thib Raya, Prof. Muhammad, Prof. Syarifuddin, dan Dr. Imran Rosadi dari Simpasai yang Hakim. Ada lima yang lain yang menjadi tim inti di akta notaris sebagai pendiri IAIN Bima. Mudah-mudahan tahun ini bisa keluar izin, paling tidak kita bisa menerima mahasiswa baru dengan jalur mandiri.
Yang tadi, “menara gading” yang banyak itu, kan kita masing-masing berjuang sendiri-sendiri, sesuai keahlian masing-masing, maka Bima Dompu ini akan maju. Ahli di bidang pendidikan, bergerak di bidang pendidikan, yang ahli di bidang ekonomi buat prodi pengembangan ekonomi, peternakan, dan sebagainya seperti itu yang harus kita lakukan ke depan.
Insha Allah Prof. Muhammad yakin IAIN Bima akan menjadi sentrum baru bagi pembangunan. Di desa Sondosia, ada bekas Gedung Fakultas Vokasi Unram di sana seluas 9,6 hektare. Beberapa waktu yang lalu, ada juga kawan Prof Muhammad yang mengontaknya untuk menghibahkan 4 hektare di desa Pandai. Untuk UIN ke depan syarat minimalnya 10 hektare. Untuk UIN ke depan dengan areal 13,6 hektare ini, sudah memenuhi.
Ketika itu disampaikan ke Pak Bupati, Prof, Muhammad menanyakan, memang ada lahan Pak Bupati?
“Kalau Prof minta untuk membangun rumah, tidak ada. Tetapi untuk membangun lokasi pendidikan, ada,” kata Adi Mahyudi. (Bersambung-mda).












