Catatan Tercecer dari Reuni Alumni UIN Alauddin di Bima (3): Prof Muhammad Yasin: IAIN Bima Sentrum Baru Pembangunan

Muhammad Yasin
Prof Muhammad Yasin

Catatan M.Dahlan Abubakar

NusantaraInsight, Makassar — Lahir di Rupe, Karumbu, 5 Januari 1968, bungsu dari tujuh bersaudara ini buah hati pasangan Yasin (alm) dengan Hj Sofia. Ayah dua orang anak bersama sang istri Hj Misfalah ini saat kecil hanya menerima dua pesan dari sang ayah. Belajar yang rajin dan sabar.

Modal itulah yang mengantar Muhammad Yasin memasuki SDN 2 Rupe, MTsain Karumbu hingga Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Bima. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan S-1 pada tahun 1992 di IAIN Alauddin Ujungpandang.

Kalau cerita masa lalu, saya kira-kira mirip-mirip, kecuali yang di sebelah saya sama, orang tua Pak Muhammad juga tidak bersekolah dan lahir di desa Rupe. Tetapi saya berkeyakinan bahwa untuk menikmati pendidikan itu adalah milik semua warga negara. Saya sebenarnya tidak bisa kuliah, tetapi karena waktu di Alyah itu juara umum, ujian di kelas 3 juara umum, kakak saya mengatakan, “saya yang membiayai kuliahnya”. Alhamdulillah bisa berkuliah dan mengambil Jurusan Bahasa Inggris dan selesai kuliah, oleh Prof. Azhar Arsyad, Ketua Prodi Bahasa Inggris IAIN Alauddin, meminta mengajar di Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin.
Muhammad Yasin juga meraih gelar master di Syracuse University, AS, di samping mengikuti pendidikan di Queensland Australia.

BACA JUGA:  Catatan Cerpen ‘Ibu Gaib’ M.Amir Jaya Ilmu Ayah, Huruf “H” & “Dia Fana” yang Penasaran

Kemudian ada tes penerimaan dosen di Tarbiyah dan lulus. Tetapi kebetulan ditempatkan di Kendari. Namun di sana tidak tahan karena cukup jauh. Akhirnya, Muhammad berangkat sekolah S-2 di Malang dengan beasiswa IPPS. Kalau sendiri tidak mampu. Tetapi saya yakin, bersekolah itu bisa apakah dengan biaya sendiri atau beasiswa. Muhammad pokoknya belajar sebaik-baiknya dengan memperoleh beasiswa.

Selesai S-2 di Malang, Muhammad mengajukan pindah ke UIN Mataram diantar oleh Adinda Prof. Kadri. Akhirnya diterima pindah ke UIN Mataram. Pada tahun 2001, mengikuti tes untuk mengikuti pendidikan S-3 di Jakarta dengan beasiswa dan alhamdulillah dapat.

Pada proses S-3 di Jakarta, Muhammad mencoba — karena S-1 Bahasa Inggris — berkeyakinan kalau tidak bisa lolos ke luar negeri, artinya tidak bisa bahasa Inggris. Akhirnya mencoba mengikuti tes untuk mendapatkan beasiswa Fullbright untuk mengambil S-2 yang kedua dan lulus. Dan mengambil Internasional Design an Evaluation di salah satu perguruan tinggi di New York, AS. Sepulang dari AS, Muhammad mau menyelesaikan S-3. Pak Rektor waktu itu mengatakan, bantulah saya dulu. Muhammad dipilih menjadi Pembantu Rektor III UIN Mataram.

BACA JUGA:  Yuni Amirta Nadila: Anak Desa, Atlet Kabaddi Nasional

Setelah itu, Muhammad tidak bisa menyelesaikan S-3 karena diminta menjadi Dekan Fakultas Tarbiyah. Ketua LPT yang menangani sertifikasi guru-guru itu. Yang membuat Muhammad selalu berpikir, orang Bima ini di luar maha bintang. Ada jenderal, ada yang Ketua MK, dan ada yang Profesor, tetapi — maaf — kayaknya kita ini banyak menjadi “menara gading”. Dia besar dirinya sendiri.