Catatan M.Dahlan Abubakar
NusantaraInsight, Makassar — Lahir di Bontokape Sila, Bolo Bima, 18 Oktober 1973. Kadri M.Saleh memangku jabatan guru besar per 1 November 2022. Dia merupakan salah seorang alumni Fakultas Dakwah IAIN Alauddin.
“Terus terang, Kak Dahlan, saya mau jadi wartawan. Sering membaca tulisan di Pedoman Rakyat. Saya senang melihat wartawan itu bisa masuk ke mana-mana saja. Kalau kita seperti mereka, tidak bisa. Makanya, kalau ada teman-teman kuliah itu, sering lipat-lipat kertas begitu. Akhirnya terinspirasi menjadi wartawan. Bahkan pernah Jawa Pos pernah diwawancarai Pak Aris, akhirnya saya putuskan cukup diwawancarai saja, tidak perlu jadi wartawan. Cukup pikiran-pikiran kita dibaca oleh wartawan saja,” kata Prof. Kadri yang ternyata pembaca koran serius ketika menjadi mahasiswa di Ujungpandang.
Dari IAIN Alauddin, Kadri ke Unpad Bandung mengambil Komunikasi. Balik ke UIN Mataram, tempat mengabdi sekarang, dia bergabung dengan Prof Muhammad. Prof. Muhammad sendiri termasuk sosok yang “dibawa” Prof. Kadri dari Kendari.
Menyikapi perjalanan hidupnya hingga pada posisi seperti sekarang ini, kata Prof.Kadri, orang komunikasi menyebut, hidup kita itu “irrevisible”, tidak bisa diputar lagi. Kita hanya bisa memberi refleksi dari sebuah sejarah panjang keberadaan kita pada suatu tempat. Kita semuanya adalah petarung. Kita ini adalah pejuang. Bayangkan Prof Thib itu ke Ujungpandang dengan kapal kecil.
“Era kita sudah KM Kelimutu. Prof Hamzah Hasan juga sudah kapal-kapal kecil. Tidak ada petarung yang tak berani menantang arus,” sebut Prof.Kadri dalam Reuni Alumni Lintas Generasi IAIN (UIN) Alauddin Makassar, 22 Maret 2026 di Kantor Kemenag Kota Bima yang dipimpin H.Mansyur, S.Ag. yang sekaligus Ketua Panitia Reuni.
Hidup ini adalah sukses dan milik petarung. Yang menarik adalah perjalanan kita itu seperti perjalanan hijrahnya Nabi Muhammad saw. Dari selatan ke utara, dari Mekkah di sebelah selatan baru ke Madinah di utara. Dari Bima di sebelah selatan dan ke Makassar di sebelah utara. Hijrah kita itu searah dengan hijrahnya Nabi Muhamamd saw.
Kedua, dari cerita yang banyak tadi itu, kita sebagai makhluk sosial tidak bisa sukses sendiri. Saya yakin Prof Muhammad bisa ke Amerika itu karena ada kontribusi yang lain. Hakim Pak Syarif juga sangat sukses dan dengan dari orang lain. Jadi keberadaan orang lain itu luar biasa.
Semakin banyak berinteraksi dengan orang semakin banyak inspirasi yang keluar. Saya yakin Prof Thib seperti itu. Prof Thib jadi suhu. Teman-teman baik kita itu merupakan kontibutor-kontributor terbaik kita hari ini. Jangan sama sekali melupakan sejarah (jasmerah). Keberadaan orang lain itu dan kita harus berterima kasih pada mereka. Selamat, kita harus tetap kompak. Kita tetap sehat menyambung silaturahim dan kita selalu sukses semuanya.













