Catatan Cerpen ‘Ibu Gaib’ M.Amir Jaya Ilmu Ayah, Huruf “H” & “Dia Fana” yang Penasaran

Ibu gaib
Amir Jaya (kiri) bersama M Dahlan Abubakar

Berakhir dengan Penasaran

Cerpen “Ibu Gaib” M.Amir Jaya sangat menarik. Kita dibawa kepada suasana yang serba penasaran setiap paragraf. Jalan ceritanya pun lebih mudah dipahami karena penulis mampu mengonkretisasi kisah dengan deskripsi lokus yang dapat dimaknai pembaca dengan mudah dan lugas. Contohnya seperti gambaran masjid.

Penulis juga mampu menjawab penasaran pembaca dengan menampilkan sang Ibu bercerita tentang peristiwa yang dialaminya.
“Ia sedang mempraktikkan ilmu yang diajarkan ayahnya. Dirinya masuk ke dalam huruf “H”. Dan saat itu dia merasa kenikmatan yang luar biasa. Dia fana”.

Pada paragraf ini, meskipun penulis menampilkan sang Ibu untuk mengisahkan pengalaman gaibnya, tetapi tidak menuntaskan rasa penasaran pembaca.

Pertama, tidak menjelaskan ilmu dari sang ayah yang dipraktikkan.

Kedua, huruf “H”, mungkin pembaca awam banyak tidak paham. Huruf “H” dalam ilmu tarekat sering dikaitkan dengan konsep “hakikat”, yang berarti kebenaran atas realitas spiritual. Huruf H juga dapat dihubungkan dengan kata “hidayah” yang kita sama maklumi sebagai petunjuk atau bimbingan dari Allah.

BACA JUGA:  Amir Jaya Menangis

Relasi interpretasi dan pemaknaan huruf “H” sangat kontekstual. Bergantung pada siapa pelaku penderitanya. Dalam kisah “Ibu Gaib” jelas yang bersesuaian dengan pemaknaan huruf “H” adalah “hakikat”, kebenaran atau realitas spiritual. Ini menurut catatan saya.

Ketiga, “Saat itu dia merasakan kenikmatan yang luar biasa. Dia fana”. Kalimat ini sangat berkaitan sesuatu yang sangat sufistik. Mendiang Pak Ishak Ngeljaratan mengatakan, kematian itu adalah sebuah kenikmatan karena seseorang itu akan fana, hilang, mati; tidak kekal’ segala yang ada di dunia.

Karena sebuah kenikmatan, orang yang meninggal telah terbebas dari penderitaan (menurut versi Pak Ishak Ngeljaratan).

Tetapi menurut paham Islam, seseorang lepas dari penderitaan di hari kemudian bergantung pada apa yang dia “tanam” selama hidupnya.
“Fana” dalam ilmu sufi berarti “lenyap” atau “hilang”. (maaf saya bukan seorang sufi, hanya suka membaca buku). Fana adalah konsep yang merujuk pada proses spiritual ketika seseorang mengalami kehilangan kesadaran diri (ego) dan meleburkan diri dalam eksistensi Ilahi.

Catatan lain, penulis kurang memanfaatkan kalimat dialogis yang sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk membantu memperkaya inspirasi pembaca memaknai deskripsi suasana atau tempat yang terkait dengan informasi yang dijelaskan.

BACA JUGA:  Dibuka untuk Umum! Teater Kepahlawanan Ayam Jantan dari Timur akan Dipentaskan

Contoh, “Ibu sangat mengerti keadaanku. Ia hanya memberi nasihat. “Yang penting salatmu tidak putus-putus”.(hlm 15).
Kalimat ini bisa lebih menggambarkan deskripsi suasana jika dikonstruksi seperti ini.