Catatan Cerpen ‘Ibu Gaib’ M.Amir Jaya Ilmu Ayah, Huruf “H” & “Dia Fana” yang Penasaran

Ibu gaib
Amir Jaya (kiri) bersama M Dahlan Abubakar

Catatan M.Dahlan Abubakar

NusantaraInsight, Makassar — Saat seorang sastrawan atau penulis melahirkan karyanya, yang ada di benaknya adalah bagaimana mengonkretkan inspirasinya dalam bentuk cerita dan kisah yang dapat dinikmati oleh pembaca. Para penulis tidak pernah memikirkan akan seperti apa respon pembaca. Hubungan antara sastrawan dengan peminat lebih kepada relasi saling memengaruhi dan memperkaya.

Sastrawan menghasilkan karya sastra yang dapat memengaruhi pembaca, sementara pembaca dapat memengaruhi sastrawan melalui tanggapan dan interpretasi yang diberikan setelah membaca karya sastra tersebut.

Berdasarkan asumsi inilah sehingga H.B. Jassin pernah berkata:
“Jangan salahkan penyair jika tidak mengerti pembaca, tetapi salahkan pembaca yang tidak mengerti terhadap penyair”.

Kalimat ini saya peroleh — jika tidak salah — di dalam buku “Tufa Penyair dan Daerahnya” yang ditulis oleh H.B.Jassin dan diterbitkan pada tahun 1965. Buku ini membahas tentang kesusastraan Indonesia, teori-teori sastra dan keindahan bahasa. Buku yang berwarna hijau ini tersimpan dalam jejeran buku di perpustakaan pribadi saya.

Secara umum dalam karyanya, sastrawan dapat menawarkan aspek yang dapat menginspirasi, mengedukasi, dan menghibur.

BACA JUGA:  Duta Baca Sulsel Launching dan Diskusi "Literasi Demokrasi, Duduk di Ruang Demokrasi

Pembaca pun dapat menginterpretasi, memberi tanggapan, dan menginspirasi sastrawan melalui seluruh aspek dalam cerita produk sastrawan. Cakupan ketiga poin ini secara umum dapat dilakukan dengan melihat konteks karya yang dihasilkan, yakni situasi dan nuansa yang kemungkinan memiliki hubungan dengan penciptaan karya sastra tersebut. Baik, relasi situasi, lokus, atau aspek kehidupan sosial, politik, ekonomi, budaya, dan sebagainya.

Membaca karya Muhammad Amir Jaya dalam kumpulan cerita pendek “Ibu Gaib”, yang didiskusikan di Kafe Baca 24 Desember 2025 Jl. Adyaksa Makassar, saya tertarik dengan cerpen yang dijadikan judul buku ini, “Ibu Gaib”. Di dalam buku ini selain “Ibu Gaib”, terdapat beberapa cerpen, yakni “Gigi Emas, Ustaz Maulanto, Tuga Tamu, Pak Broto, Perbincangan Kakek dan Cucu, Memperebutkan Bunga Desa, Aku Koruptor, Semalam di Kamar 101, Menunggu Ibu di Tepi Pantai, Uang Palsu, Tubuh Ibu Bau Harum Kasturi, Stempel Palsu, dan Hakim Rinto”.

Saya tertarik dengan “Ibu Gaib” karena ada beberapa hal. Tetapi secara umum, membuat penasaran. Pertama, pada judul spanduk tertulis “Ibu, Gaib!”. Kedua, cerpen ini menapasi acara diskusi buku ini yang dirangkaikan dengan Hari Ibu. Ketiga, cerita seorang anak terhadap ibu, adalah kisah yang tidak pernah ada habisnya.