Jika kita merunut kelahiran BoP, jelas ini merupakan skenario licik Trump untuk ‘mengikat’ Indonesia. Boro-boro BoP untuk perdamaian, baru berusia sebulan, Trump menggandeng Netanyahu menyerang Iran. Di sinilah Trump lihai dan licik membungkam posisi Indonesia yang selama ini vokal membela Palestina supaya tidak bersuara mengenai konflik Israel-Palestina. Sejak BoP diteken, Indonesia tidak pernah bersuara lagi tentang Palestina lagi.
Menteri Luar Negeri Sugiyono lebih memilih frasa yang santun dan diplomatis, dibandingkan memilih frasa ‘mengecam’ sebagaimana dilontarkan oleh Malaysia. Indonesia memang bersembunyi dan bermain frasa eufemistik guna mempertahankan “politik luar negeri yang bebas dan aktif” yang saat ini mulai terterungku oleh Amerika dengan BoP-nya.
Kemudian munculnya “The Agreement Reciprocal Trade” (ART) — perjanjian dagang resiprikal — AS-Indonesia oleh banyak pihak sebagai perjanjian yang sangat merugikan Indonesia. AS terlalu banyak mendikte Indonesia sehingga tidak ubahnya sebagai “sandera”. Bisa kita baca klausul isi perjanjian tampak jelas ketimpangan yang sangat mencolok merugikan dan menekan Indonesia.
Yang sangat disayangkan, mengapa Presiden Prabowo Subianto tidak meluangkan waktu sedikit berkonsultasi dengan para pakar ekonomi dan perdagangan yang ada di kampus sebelum memutuskan meneken ART tersebut. Bukankah bulan lalu Presiden telah bertemu dengan 1.200 Guru Besar di Hambalang yang oleh Rocky Gerung dipertanyakan apa hasilnya? Tidak ada juga suara para guru besar itu mengajukan saran atau pertanyaan kepada Presiden.
Salah satu yang mengherankan dalam ART, Indonesia harus mengimpor beras dari Amerika, sementara Indonesia tahun 2025 sudah mencanangkan swasembada beras. Lantas beras kita mau di kemanakan dan yang diimpor itu untuk siapa?
Begitulah Donald Trump berhasil ‘mengelabui’ Prabowo melalui dua ‘ikatan’ perjanjian yang membuat Indonesia tersandera. BoP dan ART. Agaknya, Prabowo lupa dengan idiom lama. “Jika Anda bertemu ular dengan Yahud, maka bunuhlah lebih dahulu si Yahudi, karena dia lebih berbisa dari ular”. Jadi, kenapa mi? (*).












