Catatan Kecil Alumni UNHAS: Dari OPSPEK Fakultas Hukum Unhas ’87, Menunggu Lama untuk Tampil di TVRI

Di sini untuk pertama kali, saya mengenal sinrilik/pasinrilik. Saya tidak ingat, siapa pasinriliknya, kala itu. Namun, pasinrilik yang tampil lengkap dengan patonronya, berkisah tentang sejarah Fakultas Hukum Unhas, sambil memainkan kesok-kesok.

Era itu, mulai ada kebiasaan para pejabat ditodong untuk bernyanyi saat tiba acara hiburan. Tak ayal, kerap para pejabat datang dengan kertas contekan lagu yang disimpan dalam kemeja safari atau jasnya. Bukan cuma satu lagu, tapi bisa 2-3 lagu hehehe.

Begitupun saat Dies Natalis Fakultas Hukum Unhas digelar di Makassar Golden Hotel (MGH), Jalan Pasar Ikan. Saya juga tampil bernyanyi dengan band yang menggunakan brass instrument. Lagunya, “Tanda-Tanda” milik Mus Mujiono, yang lagi hits kala itu.

Ada kejadian lucu, saat teman saya, Musran, datang menjemput saya di rumah dengan vespanya. Dia mendapati saya dengan kumis yang sudah diberi jeli, sehingga kumis itu terlihat mengerlip bila terkena cahaya lampu.

“Wah, memang susah kalau artis,” komentar Musran sambil terkekeh.

Saya hanya membalasnya dengan senyum. Musran ini teman yang sungguh baik hatinya.

BACA JUGA:  Walau "Nyaris Celaka" Rombongan Disdik Maros Hadiri Diskusi Buku di Unpacti Makassar

Soal hobi nyanyi ini, tak hanya saya lakoni di kampus, di rumah pun saya lakukan. Tetangga kami di Kassi-Kassi, Daeng Liwang–populer dengan nama Adi Gamajaya, penyiar Radio Gamasi–sering nongkrong, sambil main gitar dengan saudaranya di depan rumah. Saya tentu saja juga ikut nyanyi bareng mereka.

Terkadang, kalau ada hajatan pesta pernikahan/perkawinan, sepupu dan keponakan saya ‘memaksa’ saya untuk tampil nyumbang lagu. Era itu, ada sesi di mana penonton boleh nyumbang lagu manakala ada hajatan dengan hiburan Orkes Melayu (OM).

Keramaian saat hajatan ini, oleh mereka yang berbakat dan punya hobi nyanyi, digunakan sebagai ajang uji nyali dan unjuk gigi. Ada pula yang datang sekadar menonton orang nyanyi atau angngodo hehehe.

Gengsi pesta pernikahan/perkawinan, kala itu, salah satunya ditandai dengan nama Orkes Melayu yang logonya di stempel pada undangan dengan jelas. OM Roseta, OM Tiktas, OM Al-Wathan, beberapa di antaranya.

Entah berapa panggung pernah saya jajal, yang tak selalu sukses. Musababnya, karena lagu yang saya bawakan tidak nyambung dengan musik pengiringnya hehehe. Namanya juga OM, so pasti lagu yang dominan adalah lagu-lagu dengan cengkok dangdut dan melayu.

BACA JUGA:  Anak-Anak Palestina dalam Spiral Kekerasan

Karena tahu bahwa saya suka menyanyi dan biasa tampil menyanyi, teman saya, Riswan Jusuf, suatu ketika melontarkan saran, agar saya tampil di TVRI Sulawesi Selatan. Dia seperti memberi motivasi.

“Nanti kalau kamu nyanyi di TV, saya bilang ke keluargaku, yang nyanyi itu temanku,” katanya dengan nada canda.

Akhirnya, saat itu pun tiba. Kejadiannya di tahun 2011, setelah selesai gelaran KPID Award 2011 yang diadakan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulawesi Selatan di Graha Pena, Jalan Urip Sumoharjo Makassar.

Saya ditawari mengisi acara Deng Mampo (dendang mari-mari poso) di TVRI Sulawesi Selatan sebagai salah satu narasumber. Narasumber lainnya adalah AKBP Moh Hidayat, saat itu menjabat sebagai Kasat Lantas Polrestabes Makassar.

Kalau biasanya tampil di TVRI semata untuk kepentingan wawancara, kali ini, narasumbernya juga diharuskan menyanyi. Saya membawakan lagu Makassar ciptaan Anci Laricci, “I KauTonji”, yang diiringi orkes turiolo.

Begitu selesai tampil, produser acaranya ditelepon Kepala Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI Sulawesi Selatan, Muh Rusli Sumara. Rupanya, saya dipuji oleh Kepala Stasiun TVRI itu, yang dinilai mampu bernyanyi baik diiringi musik orkes turiolo. (*)