Pada saat yang sama, bonus demografi Indonesia berpeluang besar untuk meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi, dimana pertumbuhan ekonomi diharapkan dapat meningkatkan kualitas baik sehingga mendorong kesejahteraan bangsa.
Kebutuhan generasi muda saat ini adalah mengambil langkah bijak, menetapkan arah yang baik dan fokus pada tujuan dan sasaran. Hal ini akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan yang dirasakan pada beberapa dekade mendatang.
Peluang dan tantangan bonus demografi ibarat pedang bermata dua, di satu sisi menjadi potensi apabila mampu mengambil peluang-peluangnya dan di sisi akan menjadi boomerang yaitu beban apabila pemerintah tidak siap dengan sumber daya manusianya. Bagaimana bonus demografi bisa menjadi potensi ataupun bencana bila disia-siakan tanpa mengambil peran didalamnya.
Berbicara mengenai peluang, pemerintah tahu bagaimana memanfaatkan pertumbuhan demografi.
Ada beberapa faktor yang membuat pertumbuhan demografi menjadi optimis sehingga pemerintahan Joko Widodo memasukkan pertumbuhan demografi ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Termasuk kerangka implementasi di masa depan. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena bonus demografi diakui dan mendapat perhatian dari pihak pemerintah.
Salah satu upaya pemerintah dalam menghadapi bonus demografi ini adalah dengan mendistribusikan pendidikan dasar secara merata kepada seluruh masyarakat Indonesia dengan memberikan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sebesar 1,3 triliun. Pemerataan akses terhadap pendidikan dasar, khususnya di daerah terpencil dan tertinggal, secara tidak langsung meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Selain akses pendidikan dasar bagi masyarakat kurang mampu, pentingnya pendidikan masyarakat menjadi isu penting di era peningkatan demografi ini.
Selain itu, edukasi masyarakat yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merupakan upaya untuk menghadirkan informasi, kesadaran, dan perilaku tentang struktur demografi dan komponen kependudukan.
Mengetahui setidaknya jumlah penduduk usia tidak produktif (usia sekolah sampai dengan 15 tahun) akan memberikan informasi dan pada akhirnya mempengaruhi perilaku mereka yang bertanggung jawab terhadap pertumbuhan penduduk Indonesia.
Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pendidikan kependudukan adalah program pendidikan yang mengembangkan pada anak atau peserta didik pemahaman, kesadaran, sikap dan perilaku yang rasional dan bertanggung jawab tentang dampak pertumbuhan penduduk terhadap kehidupan individu, keluarga, masyarakat, dan bangsa dan kemanusiaan.
Pendidikan kependudukan di sekolah membentuk atau secara tidak langsung mengembangkan sikap dan perilaku yang tanggap terhadap penyelesaian masalah kependudukan sejak usia dini hingga lanjut usia. Dengan membentuk perilaku kependudukan melalui proses pendidikan formal, kursus dan pelatihan, atau melalui informasi melalui lembaga keluarga atau media sosial, diharapkan generasi muda mampu merasakan, sadar dan bertindak dalam menyikapi berbagai populasi. masalah Di Indonesia, terutama disebabkan oleh peningkatan struktur penduduk.
Selain pendidikan kependudukan dan perilaku hidup berbasis kependudukan, bonus demografi merupakan potensi atau peluang ketika pemerintah menyiapkan lapangan kerja. Menurut Sugiarto, bonus demografi hanya bisa dinikmati. Namun jika tidak berhasil, bonus demografi tidak ada gunanya bahkan bisa berbahaya. Oleh karena itu, menurut Sugiarto, setidaknya harus diciptakan empat wilayah kerja agar kerja bisa optimal.












