Bercermin Diri dari Mata Para Sahabat

Oleh Denny JA

NusantaraInsight, Jakarta — Saya seperti cermin yang pecah di lantai, berkeping.
Lalu masing-masing sahabat menulis kepingan cermin itu.

Cermin ini tak memantulkan wajah, melainkan jiwa.
Itulah kesan pertama saya ketika membaca buku berjudul Denny JA 2026.

Buku ini lahir bukan dari jarak kritikus, bukan dari sorot kamera publik, melainkan dari keintiman persahabatan. Sebuah ruang langka di mana pujian dan kritik bisa berdiri berdampingan tanpa saling melukai.

Tujuh belas sahabat menulis bukan untuk menilai, apalagi mengadili, melainkan untuk bersaksi: tentang perjalanan, luka, ketekunan, keberanian, dan keheningan batin saya, Denny JA.

Buku ini menjadi hadiah ulang tahun saya yang ke-63, 4 Januari 2026.

Selepas merayakan ulang tahun secara sederhana bersama keluarga, tepat pukul 24.00, saya membaca satu per satu ketujuh belas esai di buku ini.

Saya membacanya perlahan, seperti menyusuri lorong-lorong ingatan dan kesadaran diri.

-000-

Judul review ini, Bercermin Diri dari Mata Para Sahabat, menjadi sangat relevan karena buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan ulang tahun.

BACA JUGA:  Mengenal Lebih Dekat Prof Hasnawi Haris, Ketua PGRI Sulsel 2024-2029

Ia adalah album batin kolektif, tempat seorang manusia dilihat dari sudut-sudut yang tak selalu tampak di ruang publik.

Ia dilihat dari meja diskusi mahasiswa, dari ruang sunyi spiritual, dari medan kontroversi, dari gestur kecil kedermawanan, hingga dari kegelisahan ekologis dan tanggung jawab kekuasaan.

Tujuh belas sahabat mengekspresikan pandangannya dalam ragam bentuk: esai reflektif, puisi liris, esai politis, surat doa yang intim, hingga kisah ringan yang jenaka.

Ada puisi yang berubah menjadi lagu, ada kisah seorang anak kepada ibunya, dan ada pula kisah tentang rasa sepi yang diam-diam selalu menyertai saya.

Keragaman bentuk ini bukan kelemahan. Justru di sanalah kekuatannya. Satu sosok manusia memang tak pernah cukup ditangkap oleh satu genre saja. Manusia terlalu luas untuk diringkus oleh satu sudut pandang.

-000-

Pada titik ini, dua buku rujukan penting membantu saya memahami mengapa melihat diri dari mata orang lain adalah jalan refleksi yang sahih dan mendalam.

Dalam How to See Yourself As You Really Are, Dalai Lama mengingatkan bahwa gambaran diri yang kita miliki sering kali adalah ilusi.

BACA JUGA:  Regulasi Hubungan NU - PKB

Ia dibentuk oleh ketakutan, ego, dan kebiasaan lama. Kita menyangka mengenal diri sendiri, padahal yang kita kenali sering kali hanyalah narasi yang kita ulang-ulang tentang diri kita.

Di sinilah peran orang lain menjadi penting. Bukan untuk mendefinisikan kita, melainkan untuk membuka tirai yang selama ini menutup pandangan kita terhadap diri sendiri.

Dalai Lama menekankan bahwa cermin terbaik bagi manusia bukanlah penilaian diri yang terus berputar di kepala, melainkan relasi yang jujur dan penuh welas asih.

Ketika orang lain berbicara dengan niat baik, termasuk sahabat, mereka kerap memperlihatkan sisi diri yang luput dari pengamatan kita sendiri.

Buku ini mengajarkan bahwa kerendahan hati untuk mendengar adalah pintu menuju kebijaksanaan batin.

Lebih jauh, Dalai Lama menegaskan bahwa refleksi diri yang sejati bukan bertujuan memperkuat ego, tetapi justru melunakkannya.

Melihat diri melalui mata orang lain adalah latihan melepaskan kelekatan pada citra diri, dan mendekatkan kita pada kebenaran yang lebih jernih tentang siapa kita sebenarnya.

BACA JUGA:  Militansi Hamas Terukur dan Berdasarkan Kajian

Pandangan ini beresonansi kuat dengan Denny JA 2026. Para sahabat tidak menulis untuk mengagungkan, tetapi untuk menghadirkan kejernihan. Kadang hangat, kadang getir, kadang kritis, namun jujur.

Sementara itu, The Disowned Self karya Nathaniel Branden memberi lapisan psikologis yang tak kalah penting.