*Intelektual-Jurnalis*
Dalam usia relatif muda, tulisan-tulisan Ajoeba Wartabone sudah tersebar luas di media cetak, dan dibaca kalangan terpelajar di Celebes Oetara dan di Hindia Belanda.
Melalui surat kabar Tjahaja Siang, dan Majalah Pertimbangan, pemikiran-pemikirannya seputar kebangsaan, politik, sosial, ekonomi, serta visinya tentang kemodernan diekspresikan. Tjahaja Siang merupakan koran tertua kedua di luar Pulau Jawa, yang sudah terbit sejak tahun1869.
Tulisan-tulisannya itu dapat dipastikan merupakan akumulasi dari bacaan-bacaannya dan jejaring pergaulannya, sejak masa pendidikan hingga memasuki dunia pergerakan. Kadar intelektualitasnya terasa dalam penggunaan diksi dan kutipan berbahasa Belanda.
Sebagai jurnalis, Ajoeba Wartabone pernah bekerja di Majalah Pertimbangan, tahun 1932-1933. Ia duduk dalam jajaran redaksi bersama Mr Soenarjo (Makassar), GR Pantaow (Jakarta), dan A Durand. Media yang terbit tahun 1931 ini dipimpin oleh GE Dauhan, dengan direktur Mr Iskaq Tjokrohadisoerjo.
Posisinya sebagai redaktur membuktikan kapasitas dirinya. Apalagi kontrol pemerintah kolonial Belanda, di masa penjajahan, terbilang ketat. Namun, Ajoeba Wartabone mampu menjalankan posisinya secara optimal.
Majalah Pertimbangan mengklaim dirinya sebagai “majalah untuk rakyat, mementingkan soal-soal politik, sosial, ekonomi”. Pelanggannya mencapai tidak kurang dari tiga ribu orang.
Istilah “bekerja untuk rakyat dan karena rakyat” yang dipakai media ini mengindikasikan keberpihakannya. Pun mengingatkan kita pada 9 Elemen Jurnalisme dari Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2001) bahwa loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada warga (citizens).
*Jurnalisme Kebangsaan*
Peran media massa selama revolusi 1945-1949, memang begitu penting. Media di kala itu, bukan sekadar penyampai informasi, tetapi lebih dari sebagai penyemangat perjuangan dan alat pemersatu bangsa.
Media massa merupakan bagian dari strategi melawan propaganda penjajah yang ingin terus bercokol di Tanah Air.
Peran media massa begitu diperlukan di masa krisis tersebut. Pasalnya, sekalipun Sukarno dan Mohammad Hatta sudah memproklamasikan negara Republik Indonesia, pada 17 Agustus 1945, tetapi Belanda tidak sepenuhnya mengakui kedaulatan negara kita.
Perubahan fundamental, cepat, dan penuh konflik ini, lantas jadi medan perjuangan, baik secara fisik bersenjata maupun diplomasi.
Berita-berita media massa memainkan peran dan bertindak sebagai soft power guna mempengaruhi opini publik internasional dan membangun citra negara (nation branding) sebagai Indonesia merdeka dan berdaulat. Dan tentu saja sekaligus untuk melawan disinformasi dari Belanda yang manipulatif.












