Iwan Azis, Arqam Azikin dkk beberapa kali memutar film dokumenter, bekerja sama dengan Konsulat Jenderal (Konjen) Jepang di Makassar. Mereka tak hanya menonton tapi juga mendiskusikannya.
“Hanya saja, film-film dengan muatan informasi dan edukasi ini, saat itu, kurang diminati,” keluh Iwan Azis.
Iwan Azis mengenang. Pernah dia dan Arqam Azikin diundang ke Jakarta untuk mengikuti kegiatan di Pusat Perfilman H Usmar Ismail Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Selama di ibu kota, awalnya, mereka nginap di hotel yang difasilitasi panitia. Setelah itu mereka pindah di penginapan murah di Jalan Sabang.
“Nginap di tempat murah itu, malamnya kami tidak bisa tidur karena banyak nyamuk,” kisah Iwan Azis sambil terkekeh.
Meski pernah aktif di lembaga yang sama, tapi lebih 10 tahun, Iwan Azis tidak pernah bersua lagi dengan Arqam Azikin. Lalu dia mendengar kabar wafatnya Arqam Azikin di grup WhatsApp Projo Sulawesi Selatan. Projo Sulawesi Selatan ini dipimpin Herwin Nini Ala, teman almarhum di Kine Klub.
Walau lama terpisah dengan sahabat beda generasinya itu, Iwan Azis mengaku terus mengikuti aktivitas Arqam Azikin. Dia sering menyaksikan wawancara Arqam Azikin yang tayang di berbagai stasiun TV. Lelaki vokal itu memang kerap diundang sebagai narasumber di studio TV dan stasiun radio. Status dan postingan-postingan Arqam Azikin juga sering dia baca di linimasa Facebook.
Menurutnya, Arqam merupakan pengamat politik yang berani melawan arus. Dia tegas berbeda sikap, kalau tidak sejalan dengan prinsip dan idealisnya.
Arqam Azikin, yang dikenal sebagai sebagai pengamat politik kebangsaan itu, wafat pada Senin, 2 Desember 2024. Sebelumnya, akademisi Universitas Muhammadyah (Unismuh) Makassar itu dirawat di RSUP dr Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Almarhum wafat dalam usia 53 tahun. (*)












