News  

Zionis vs Diaspora

Sementara itu, warga Yahudi di luar negeri lebih bersifat otonom. Mereka bisa memilih untuk tidak terlibat dalam isu Israel-Palestina, atau sebaliknya, menjadi suara kritis yang bebas dari tekanan nasionalisme negara. Karena tidak memiliki keterikatan struktural dengan militer atau pemerintah Israel, mereka lebih leluasa mengevaluasi kebijakan luar negeri Israel tanpa rasa takut dituduh sebagai “pengkhianat bangsa”.

Spektrum Religius dan Budaya

Spektrum religius Yahudi juga jauh lebih beragam di luar Israel. Di banyak negara, komunitas Yahudi terbuka terhadap pluralitas — ada Yahudi Ortodoks, Reformis, Konservatif, bahkan sekuler yang tidak mempraktikkan ritual agama sama sekali. Perbedaan ini menciptakan ruang dialog yang lebih luas, termasuk terhadap isu keadilan sosial dan hak asasi manusia.

Sebaliknya, di Israel, komunitas Yahudi Ortodoks ultra-konservatif memiliki pengaruh besar, terutama dalam politik dan kebijakan publik. Mereka berperan dalam menentukan siapa yang diakui sebagai “Yahudi sejati”, bahkan mempersulit pernikahan antaragama dan konversi. Pandangan sempit ini sering memperkuat diskriminasi terhadap non-Yahudi — termasuk warga Palestina yang hidup sebagai minoritas di Israel.

BACA JUGA:  577 Jiwa Baru Lahir dari UKI Paulus

Solidaritas Kemanusiaan

Tragedi yang terjadi di Gaza sejak akhir 2023 hingga pertengahan 2025 telah mengungkap dengan jelas siapa yang memilih berpihak pada kemanusiaan. Saat dunia menyaksikan pembantaian massal, blokade bantuan, dan kehancuran infrastruktur sipil di Gaza, beberapa warga Yahudi di Israel membela tindakan tersebut sebagai “hak untuk membela diri.” Namun di luar Israel, ratusan ribu warga Yahudi ikut dalam demonstrasi pro-Palestina, membawa spanduk bertuliskan “Not in Our Name” (Bukan atas nama kami), dan mendesak pemerintah mereka untuk menghentikan dukungan terhadap Israel.

Perbedaan ini menegaskan bahwa tidak semua Yahudi mendukung Israel, dan tidak semua yang mengkritik Israel adalah antisemit. Kritik terhadap Israel adalah kritik terhadap negara, bukan terhadap agama atau etnis.

Dunia harus berhati-hati membedakan antara agama Yahudi sebagai keyakinan, etnis Yahudi sebagai identitas, dan Israel sebagai entitas negara. Ketiganya bukanlah satu kesatuan mutlak. Meskipun Israel mengklaim mewakili seluruh Yahudi dunia, kenyataannya tidak sedikit warga Yahudi di luar Israel yang menolak klaim tersebut. Mereka ingin hidup damai sebagai warga dunia yang menghormati hak semua bangsa, termasuk Palestina.

BACA JUGA:  Direktur ZH Konsultan: Website BPSIP Sulsel Bisa Jadi Rujukan Data Pertanian

Memahami perbedaan antara warga Yahudi di Israel dan Yahudi di diaspora bukan hanya penting untuk keadilan informasi, tapi juga demi membangun masa depan yang lebih toleran dan damai. Dunia harus berani berkata: tidak semua Yahudi adalah Zionis, dan menentang kekerasan Israel bukan berarti membenci Yahudi.

2Juli2025