News  

Workshop Co-Creation Inklusif: “Menjalin Risalah, Menjaga Warisan, Mengukir Hikayat yang Inklusif bagi Semua”.

Yakni, cerita yang lebih terbuka. Cerita yang lebih ramah. Juga cerita yang dapat diakses oleh semua.

“Jika dikelola dengan pendekatan yang tepat, teknologi dapat menjadi jembatan yang menghubungkan kembali disabilitas dengan warisan budayanya. Berangkat dari kesadaran tersebut, pendekatan Co-Creation Inklusif menjadi penting,” imbuh Ridwan Mappa.

Sehingga, kata dia, disabilitas tidak lagi ditempatkan sebagai penerima informasi semata, tetapi sebagai subjek yang aktif mencipta, menafsirkan, dan menyampaikan ulang cerita.

Dengan melibatkan ragam disabilitas secara langsung, konten yang dihasilkan tidak hanya lebih relevan, tetapi juga lebih adil dan representatif.

Harapannya, bakal lahir konten-konten budaya yang tidak hanya menjaga ingatan masa lalu, tetapi juga membuka jalan bagi masa depan yang lebih inklusif.

“Sejarah tidak boleh eksklusif. Ia harus bisa disentuh, didengar, dipahami, dan dimiliki oleh siapa saja,” pungkas Ridwan Mappa. (*)

BACA JUGA:  Syukuran Pahlawan Nasional Sultan Muhammad Salahuddin di Depan Istana Bima