Akibatnya, kata dia, sejarah dan budaya yang seharusnya menjadi milik bersama justru terasa jauh bagi sebagian orang. Pengalaman ini bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Ia adalah kenyataan kolektif.
Dikemukakan, banyak penyandang disabilitas tumbuh tanpa akses yang memadai terhadap cerita tentang tanahnya sendiri.
Padahal, mengenal sejarah dan budaya bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga tentang identitas, rasa memiliki, dan kepercayaan diri sebagai bagian dari masyarakat.
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital membuka peluang baru. Informasi kini dapat disajikan dalam berbagai bentuk. Teks, audio, visual, dan kombinasi di antaranya dapat dirancang agar lebih adaptif.
Workshop Co-Creation Inklusif ini dirancang sebagai ruang bersama untuk memulai proses tersebut. Ruang untuk belajar, berbagi, dan mencipta.
Peserta yang merupakan kolaborator dari berbagai ragam disabilitas, meliputi disabilitas netra, disabilitas Tuli atau pendengaran, disabilitas fisik, disabilitas psikososial, dan disabilitas intelektual, diajak menggali sejarah, mengenali warisan, lalu mengolahnya menjadi bentuk cerita yang baru.
Yakni, cerita yang lebih terbuka. Cerita yang lebih ramah. Juga cerita yang dapat diakses oleh semua.
“Jika dikelola dengan pendekatan yang tepat, teknologi dapat menjadi jembatan yang menghubungkan kembali disabilitas dengan warisan budayanya. Berangkat dari kesadaran tersebut, pendekatan Co-Creation Inklusif menjadi penting,” imbuh Ridwan Mappa.
Sehingga, kata dia, disabilitas tidak lagi ditempatkan sebagai penerima informasi semata, tetapi sebagai subjek yang aktif mencipta, menafsirkan, dan menyampaikan ulang cerita.
Dengan melibatkan ragam disabilitas secara langsung, konten yang dihasilkan tidak hanya lebih relevan, tetapi juga lebih adil dan representatif.
Harapannya, bakal lahir konten-konten budaya yang tidak hanya menjaga ingatan masa lalu, tetapi juga membuka jalan bagi masa depan yang lebih inklusif.
“Sejarah tidak boleh eksklusif. Ia harus bisa disentuh, didengar, dipahami, dan dimiliki oleh siapa saja,” pungkas Ridwan Mappa. (*)













