Selain itu, Appi menilai wilayah tersebut belum memadai fasilitas pendidikan dan literasi.
Dalam kesempatan itu, Appi memastikan bahwa rumah-rumah warga yang terbakar akibat konflik tidak dibiarkan begitu saja. Namun akan dibantu Pemerintah Kota.
“Pak camat tolong dicatat, kami akan datang membantu mendirikan kembali rumah-rumah ini bersama seluruh unsur terkait,” tuturnya.
Di akhir penyampaiannya, Appi menegaskan pentingnya ketegasan aparat dalam menindak pelaku yang merusak perdamaian.
“Saya sampaikan kepada semua pihak, tegakkan aturan terhadap para pelaku yang mencoreng perdamaian. Ini butuh ketegasan,” tegasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak lagi terprovokasi dan menghentikan sikap merasa lebih hebat antar kelompok.
“Jangan ada lagi provokasi. Jangan ada kelompok merasa lebih baik dari yang lain,” pinta Appi.
Ia meminta Satpol PP memaksimalkan operasi keamanan, serta memastikan ronda dan pendekatan sosial dilakukan secara optimal. Pemkot, kata Appi, akan memberikan dukungan penuh bersama TNI-Polri.
“Ini tanggung jawab kita semua. Kita harus bekerja bersama. Kami akan terus berusaha memperbaiki keadaan. Tolong bantu kami memaksimalkan segala upaya yang ada,” tutur Wali Kota.
Adapun solusi lain, Pemerintah Kota Makassar berencana menghadirkan unit sekolah SMP baru di wilayah Utara Kota, menampung siswa dari Kelurahan Sapiria dan Bontoa, Kecamatan Tallo, demi memastikan anak-anak di kawasan tersebut mendapatkan akses pendidikan yang layak.
Munafri mengungkapkan bahwa rencana pembangunan sekolah, terutama jenjang SMP, muncul setelah melihat minimnya fasilitas pendidikan di wilayah itu. Kondisi tersebut membuat banyak warga tidak memiliki pilihan sekolah yang dekat dan memadai.
“Rencananya SMP, kita minta Dinas Pendidikan mencari lokasi yang tepat. Kita akan survei dulu karena di sana memang belum ada SMP. Akibatnya, anak-anak di sekitar situ tidak punya tempat untuk membangun ikatan atau bounding satu sama lain,” ternag Munafri.
Ia menekankan bahwa keberadaan sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang interaksi sosial yang dapat memperkuat hubungan antarwarga.
“Kalau ada sekolah atau tempat berinteraksi, otomatis kita akan saling melindungi. Itu yang coba kita bangun,” tambahnya.
Dikatakan, masih ada warga di wilayah itu yang bahkan tidak memiliki ijazah SMP karena sulitnya akses pendidikan selama ini. Kondisi tersebut semakin menguatkan alasan perlunya kehadiran sekolah baru.
Terkait waktu pembangunan, Pemkot memastikan tahapannya harus terencana. Salah satu tantangan terbesar adalah ketersediaan lahan.
“Pasti ada perencanaan dulu, apalagi kalau lahannya belum ada. Kita harus perjelas dulu opsi yang memungkinkan. Misalnya, mensupport sekolah swasta terdekat jika memungkinkan. Ada beberapa alternatif yang sedang kita kaji,” jelasnya.
Pemkot akan menugaskan Sekretaris Daerah bersama Kepala Dinas Pendidikan untuk turun langsung melihat kondisi di lokasi, memastikan kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi melalui solusi terbaik.
Sedangkan, Wakapolrestabes Makassar, AKBP Andi Erma Suryono, menegaskan komitmen kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), khususnya di wilayah yang beberapa hari terakhir terdampak konflik antar kelompok.
Dalam pertemuan bersama pemerintah kota dan tokoh masyarakat, ia menjelaskan bahwa seluruh personel Polrestabes Makassar kini berada dalam status siaga dan rutin melaksanakan patroli terpadu di titik-titik rawan.
“Kami terus mengawal situasi ini. Semua personel berada di lapangan, terutama melalui patroli rutin. Ketika ada potensi gangguan, kami langsung hadir memberikan rasa aman kepada masyarakat,” ujar AKBP Andi Erma.












