Dua hari kemudian, 23 November Sekutu mendarat di Bima dan Sultan dengan tegas mengatakan bahwa Kerajaan Bima menolak kedatangan tentara NICA karena Bima telah menyatakan diri berdiri di belakang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pada tanggal 2 Januari 1946, tentara Sekuru mendarat di Teluk Bima dan dengan terpaksa Sultan bersedia berunding di atas kapal Australia pada tanggal 12 Januari 1946. Pada tanggal 15 Juli 1946, van Mook mengundang kepala pemerintah di luar Jawa, yaitu Maluku, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan sebagian Sumatra menghadiri Konferensi Malino. Van Mook meminta agar seluruh kepala pemerintahan memisahkan diri dari NKRI.
Namun keinginan ini ditolak oleh Sultan Muhammad Salahuddin dengan tidak hadir dalam Konferensi Denpasar Bali pada Desember 1946 dengan agenda pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT). Sekutu juga menolak Perjanjian Linggarjati.
Pada tanggal 17 Agustus 1950 Sultan Muhammad Salahuddin mengadakan upacara peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI. Pada tanggal 2 Oktober 1950 istilah kerajaan berubah menjadi kesultanan. Sultan Muhammad Salahuddin wafat di Jakarta 11 Juli 1951 dalam usia 63 tahun.
Beliau dimakamkan dengan upacara kenegaraan dihadiri oleh seluruh menteri, pejabat negara, tokoh-tokoh agama seperti, K.H.Agus Salim, Mohammad Natsir, Mohammad Roem, Syafruddin Prawiranegara. Atas jasa Sultan Muhammad Salahuddin Presiden Soekarno mengharapkan agar jenazahnya disemayamkan di Tugu Proklamasi Kemerdekaan Jl. Pengangsaan Timur 56 Jakarta.
Sebelum dianugerahi gelar Pahlawan Nasional 10 November 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto, pada tahun 2019 Sultan Muhammad Salahuddin memperoleh gelar Bintang Mahaputra Adipradana.
Setelah pemutaran riwayat singkat profil Sultan Muhammad Salahuddin, Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Pemukiman Fahri Hamzah menyampaikan testimoni melalui rekaman video dengan mengucapkan selamat kepada keluarga besar masyarakat Bima dan masyarakat Pulau Sumbawa atas penganugerahan Pahlawan Nasional kepada Sultan Muhammad Salahuddin, “Ruma ta ma kakidi agama” (sosok yang menegakkan agama).
Penganugerahan Pahlawan Nasional yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto pada tanggal 10 November 2025 adalah pengakuan negara atas eksistensi Bima khususnya dan Pulau Sumbawa umumnya dalam perjuangannya,” kata Fahri Hamzah
. Sultan Muhammad Salahuddin diberikan gelar Pahlawan Nasional atas dedikasinya dalam bidang pendidikan dan dedikasinya.
Maka sebagai generasi penerus beliau, generasi Bima hari ini harus bisa menunjukkan bagaimana kekuatan pikiran dan diplomasi orang Bima dalam menghadapi tantangan dunia baru dengan berpegang teguh kepada prinsip kehuatan budaya “maja labo dahu.












