Amerika, sang wasit yang sesungguhnya bukan wasit, kini terlihat ragu. Israel mulai babak belur . Jika Iran terus membalas dan medan perang melebar, Amerika pun bisa terseret. Ia mulai memainkan diplomasi baru, menawarkan jalur damai penuh sandiwara, tapi tetap memegang tangan Israel erat-erat. Seolah berkata: “Aku adil, tapi ini sahabatku.”. Amerika lupa dia sebagai wasit, dalam sengitnya pertarungan Iran Israel selama 12 hari, tak sabar menampar Iran dengan menyerang 3 situs Nuklir, dengan alasan yang sama pertama kali Israel menyerang Iran.
Sementara itu, rakyat-rakyat sipil di Iran, Israel, Amerika dan terutama Palestina, menjadi penonton yang paling menderita. Sejujurnya mereka tidak ingin perang terjadi yang membuat mereka menderita. Dalam tradisi Bugis, keluarga dua pendekar akan menangis di luar sarung, tahu bahwa satu dari mereka akan pulang tinggal nama. Sementara di Palestina, anak-anak Gaza semakin menderita, warga sipil di Tel Aviv dan di Teheran—semuanya menjadi korban dari duel kehormatan yang tidak mereka pilih. Warga Amerika protes keras ke presidennya yang ikut campur perang ini, akibat terprovokasi oleh Israel sehingga tidak lagi meminta persetujuan senat untuk menyerang Iran. Sama sekali sudah lupa posisinya sebagai wasit. Lucunya wasit tiba-tiba mengumumkan pertikaian dihentikan (gencatan senjata) setelah membom 3 situs Nuklir Iran dan Iran mulai membela diri dengan Mengirim rudal ke pangkalan Militer Amerika yang berada di Qatar. Mungkin wasit tidak tega melihat Israel babak belur dirudal, dan juga kuatir serangan balasan Iran sebagai besar ke pangkalan militernya, maka tiba-tiba menghentikan pertandingan dan menyatakan gencatan senjata.
Jalan terakhir
Mungkin dunia harus belajar dari ajaran Bugis Makassar ini : bahwa Sitobo Lalang Lipa hanya dilakukan sebagai jalan terakhir. Ketika semua musyawarah gagal, ketika keadilan tak ditemukan di meja hukum. Barulah dipilih cara ini. Tapi nyatanya, dunia masih punya ruang untuk berdialog, masih punya forum PBB, jalur diplomatik, dan kekuatan rakyat sipil yang bisa bersuara. Jangan sampai perkelahian ini berubah menjadi duel berdarah di mana kehormatan dibayar dengan genosida seperti yang dilakukan oleh Israel kepada Palestina.
Iran dan Israel kini berdiri di dalam “sarung” global. Mereka saling tusuk di ruang sempit geopolitik Timur Tengah. Amerika meniup peluit sambil membawa senjata. Dan dunia hanya bisa berharap: sebelum darah lebih banyak tertumpah, sebelum sarung ini berubah menjadi kain kafan bagi ribuan jiwa akibat meletusnya perang dunia ketiga.
Semoga saja masih ada akal sehat yang mampu berkata: berhenti !!!
Berhenti, bukan berarti tidak lagi saling menyerang. Tapi membuka ruang pengadilan buat pelaku genosida , pelanggar kemanusian, yaitu Israel yang selama ini bertindak angkuh dan sombong menganggap dirinya jawara yang tak Ada tandingannya, bebas berbuat sesukanya; membunuh warga sipil dengan segala dalih dan tak merasa berdosa.
Karena dalam setiap Sitobo Lalang Lipa, bukan hanya siapa menang siapa kalah , tapi yang utama menjaga harga diri dengan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
26Juni2025












