News  

Sekjen ADPERTISI: Organisasi ini Luar Biasa, Bantu Dosen Penuhi Berkas Tridharma

4. Kolaborasi Lintas Sektor Masih Lemah

Kolaborasi dengan pemerintah daerah, industri, dan NGO sering bersifat sporadis dan belum terstruktur sehingga menghambat penciptaan program berbasis kebutuhan lokal yang berkelanjutan.

5. Keterlibatan Mahasiswa Belum Maksimal

Padahal, PKM merupakan ruang pendidikan karakter dan penguatan kompetensi mahasiswa secara langsung.

Lima Pilar Strategis Transformasi PKM Nasional

Untuk menjawab tantangan tersebut, MPP ADPERTISI mengusulkan lima pilar utama yang menjadi fondasi pengembangan PKM yang lebih modern dan berdampak:

1. PKM Berbasis Riset dan Inovasi

Program PKM didorong agar memanfaatkan hasil penelitian kampus, teknologi tepat guna, dan inovasi sosial sehingga dapat diterapkan langsung untuk menyelesaikan masalah masyarakat.

2. PKM Berkelanjutan dan Berdampak

Program dirancang dalam jangka menengah 3–5 tahun, berfokus pada pemberdayaan masyarakat. Bukan hanya menyelesaikan masalah sesaat, tetapi memastikan masyarakat dapat mandiri setelah program berakhir.

3. PKM Kolaboratif dan Konvergen

Menghadirkan berbagai pemangku kepentingan mulai dari perguruan tinggi, pemerintah daerah, industri, komunitas, hingga LSM dalam satu ekosistem program. Skema matching fund dapat menjadi akselerator.

BACA JUGA:  Panitia Muda in Action, Dr. Dirk Sandarupa: Natal Oikumene Unhas Bukan Hanya Perayaan Iman, Tapi Aktualisasi

4. PKM Berwawasan Kebangsaan

Fokus pada isu-isu strategis seperti stunting, kemiskinan ekstrem, ketahanan pangan, dan mitigasi bencana. Sekaligus menggali kekayaan lokal seperti UMKM, wisata, dan budaya daerah.

5. PKM Terdokumentasi dan Terpublikasi

Penyusunan database nasional PKM menjadi prioritas. Program yang berjalan harus terdokumentasi baik dan mendorong publikasi ilmiah serta diseminasi hasil melalui media massa.

“Transformasi PKM harus menghasilkan dampak terukur dan berkelanjutan. Tujuannya bukan hanya memenuhi Tridarma, tetapi menjadikan PKM pilar utama pembangunan Indonesia,” tegas Dr. Buyung.

Narasumber Tekankan Pentingnya Coaching Clinic bagi Dosen

Selain pengarahan dari pimpinan MPP ADPERTISI, kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama.
Materi pertama dibawakan oleh Dr. H. Yusriadi Hala, SE., M.Si., M.Ak., yang menekankan pentingnya coaching clinic bagi dosen sebagai upaya meningkatkan kualitas usulan PKM.

“PKM adalah identitas dosen sebagai agen perubahan. Karena itu dosen harus memahami kriteria, teknik penyusunan proposal, serta pendekatan yang relevan dan inovatif,” ujarnya.

Menurut Yusriadi, PKM yang berkualitas tidak hanya menentukan peluang pendanaan, tetapi juga menjamin keberlanjutan program di masyarakat. Ia mendorong dosen agar tidak hanya fokus pada syarat administratif, tetapi memperhatikan substansi program dan dampak jangka panjangnya.