“Katanya, otak kita yang sekarang ini, baru maksimal dipakai 10%. Bagaimana kalau hanya dengan 10% saja kita sudah bisa membuat teknologi seperti ini, bagaimana dengan 50%, mungkin kita sudah sampai ke planet-planet yang lain,” ujar peserta American Field Service (AFS) Texas Amerika Serikat (1989-1990) dan lulus dengan “summa cumlade” dalam program tersebut.
Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) periode 1996-1999 tersebut menyebutkan, meskipun belum cukup tiga bulan menjadi Menteri Kebudayaan, namun sudah menjadi komitmen Presiden Prabowo Subianto, ada di dalam UUD 1945 pasal 32 ayat 1 tentang kebudayaan.
“Bunyinya, Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan budayanya masing-masing. Itulah bunyi konstitusi kita. Saya yakin di ruang ini tidak ada yang hafal. Saya juga baru hafal. Ini Pak Ir.La Tinro Latunrung yang anggota Komisi X DPR RI mungkin juga belum baca,” kelakar Fadli Zon yang disambut gemuruh yang hadir di Ruang Senat Unhas, di antaranya Dirjen Perlindungan Budaya, Dr.Restu Gunawan, Staf Ahli Hubungan Antarlembaga Prof.Dr.Ismunandar, mantan Dubes Unesco hingga akhir September 2024, para Staf Ahli, Direktur Waisan Budaya, Kepala Badan Pelestarian Kebudayaan, Sekretaris Wali Amanat Unhas, para Wakil Rektor Unhas, sejumlah guru besar, Dekan FIB Unhas Prof.Dr.Akin Duli, M.A., dan sejumlah dekan fakultas, para dosen dan mahasiswa.
Doktor lulusan FIB UI 2006 dengan Ijazah Sarjana Sastra Rusia ini mengatakan, kalau berbicara mengenai konstitusi adalah sesuatu yang imperatif (bersifat memerintah) dan memang suatu perintah bahwa negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Sebenarnya, selama ini kita kurang menghargai budaya sendiri. Kekayaan budaya kita luar biasa dari Sabang sampai Merauke.
Dari 100 negara yang dikunjungi, kata Fadli Zon, tidak ada negara yang sekaya budaya Indonesia. Kekayaan budayanya luar biasa. Keberagaman budaya kita itu tidak dapat dikatakan “diversity” (aneka ragam), tetapi “mega diversity”. Kekayaan dan ekspresi budayanya dari 718 bahasa dan 1300 kelompok etnik (etnic group), itu luar biasa. Melahirkan ekspresi-ekspresi budaya yang luar biasa, termasuk hingga saat ini. Kita belum melihat budaya ini sebagai sebuah “national treasure” (kekayaan nasional). Padahal, budaya ini kekayaan nasional kita yang juga tidak kalah dari batu bara, nikel, emas, dll atau ‘oil and gas”.
“Jadi, kalau kita lihat dalam proses negara-negara yang beradab itu, budaya itulah yang menjadi pondasi. Dalam hal yang sifatnya fisik, ketika menjadi “tangible” (nyata) kalau ke negara-negara itu, yang pertama dipamerkan adalah museum-museumnya, perpustakaan-perpustakaannya, sebagai bagian dari perjalanan peradaban mereka,” ungkap Fadli Zon sambil menambahkan bahwa kita belum sampai pada “luxury” (kemewahan) dalam melihat kekayaan budaya.
Ketika mendatangi Leang-Leang Maros, Fadli Zon menyebutkan, perlu ada promosi, narasi literasi yang kuat terhadap bukti-bukti, jejak-jejak peradaban purba di Indonesia yang menunjukkan bahwa kita ini selain kaya dan “mega diversity”, kita pun memiliki peradaban tertua di dunia. Dari situlaj, kita memiliki modal budaya yang kuat dan bisa menjadi kekuatan “the power of culture” (kekuatan budaya) dalam membangun dan membentuk proses karakter dan “national building” (pembangunan nasional) kita. Seharusnya kita membangun identitas itu berangkat dari sana (budaya), “reinventing Indonesian identity” (menemukan kembali identitas).












