Fadli menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga budaya. Menurut dia, tradisi tidak boleh hanya dikenang, tetapi harus dihidupkan kembali dengan partisipasi aktif anak-anak dan remaja.
Festival tahun ini mengangkat tema Leang-leang Goes To Megadiversity. Dia menilai tema ini sangat relevan, sebab kawasan Leang-leang merupakan satu-satunya Taman Arkeologi di Sulawesi Selatan dan menjadi bukti keberagaman budaya sekaligus sejarah peradaban dunia.
“Di Leang Karampuang, Maros, kita temukan lukisan dinding tertua di dunia yang berusia 51.200 tahun yang lalu. Ini warisan dunia yang harus kita jaga bersama,” katanya.
Gau Maraja, yang berarti perhelatan besar dalam bahasa Bugis-Makassar, tak hanya jadi ruang ekspresi budaya, tetapi juga jadi panggung pembuktian bahwa Maros adalah pusat sejarah dan peradaban manusia purba yang penting di Indonesia, bahkan dunia.
Festival dibuka dengan pertunjukan budaya seperti Perkusi Balil Sumange, Amancak, Aru, Tarian Peppe-peppe, dan Tari Pakarena.
Kemudian ada pertunjukan tari kolosal berjudul Bate’: Jejak Peradaban, yang melibatkan lebih dari 250 pelajar dari tingkat SD hingga SMA se-Kabupaten Maros.
Sementara itu,vBupati Maros, Chaidir Syam mengatakan peringatan hari ulang tahun ke-66 Kabupaten Maros kali ini begitu istimewa.
“Karena di ulang tahun ke-66 ini , sebagaimana angka kembar di dalamnya, juga hari lahir ini, adalah kegiatan kembar bersama Festival Gau Maraja Leang-leang,” tuturnya.
Gau Maraja kali ini mengangkat tema “Leang-leang Goes to World Heritage & Megadiversity”.
“Hari ini Maros begitu istimewa karena kedatangan banyak tamu dari seluruh negeri, dan akan tinggal di Maros selama tiga hari, menikmati persembahan seni budaya yang digagas Kementerian Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX.
“Jadi di festival ini semua bersatu, berkolaborasi menunjukkan potensi kekayaan budaya Kabupaten Maros,” pungkasnya.












