Kehadiran para pengurus sekaligus memberikan dukungan kepada Bendahara PGRI Sulsel Hendriati Sabir yang kehilangan suami.
Mahmud Nuhung meninggalkan seorang istri, lima anak dan tujuh cucu.
Kelima anak almarhum yakni Muh. Rasyidi Mahmud, Walida Mufliha, Elyda Alaeyah, Megawati Setiawati dan Muh. Muladi Mahmud.
Pimpinan Unismuh Datang Melayat
Selain keluarga besar PGRI, sejumlah pimpinan dan sivitas akademika Unismuh Makassar turut memberikan penghormatan terakhir.
Di antaranya mantan Rektor Unismuh Makassar Prof. Dr. H. Abdul Rahman Rahim, S.E., M.M.
Hadir pula Wakil Rektor II Unismuh Makassar Dr. Ihyani Malik, M.Si., Wakil Rektor III Dr. Mawardi Pewangi, M.Pd.I., dan Wakil Rektor IV Dr. Burhanuddin, M.Si.
Kerabat, kolega dan handai tolan juga berdatangan ke rumah duka sejak pagi.
Bagi keluarga besar Unismuh, Mahmud Nuhung bukan sosok asing. Lebih dari tiga dekade perjalanan pengabdiannya dihabiskan di perguruan tinggi Muhammadiyah tersebut.
Selain sebagai akademisi dan pimpinan kampus, almarhum memiliki perjalanan panjang dalam Persyarikatan Muhammadiyah.
Sejak muda, Mahmud Nuhung pernah aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Sulawesi Selatan. Pengabdiannya kemudian berlanjut di Muhammadiyah, termasuk pernah menjadi bagian dari Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan.
Pada 2024, Mahmud Nuhung juga menerima penghargaan sebagai salah seorang dosen purnabakti atas kontribusinya terhadap perjalanan dan perkembangan FEB Unismuh Makassar.
Jenazah Disalatkan di Masjid Kampus Unismuh
Setelah upacara persemayaman dan penghormatan terakhir yang dipimpin Pantja Nur Wahidin di rumah duka, jenazah dibawa menuju Masjid Kampus Unismuh Makassar.
Di kampus tempat almarhum mengabdikan diri selama puluhan tahun tersebut, jenazah disalatkan sebelum diberangkatkan menuju lokasi pemakaman.
Jenazah kemudian dilepas secara resmi oleh Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag.
Selanjutnya, jenazah dibawa menuju Kompleks Pemakaman Muhammadiyah di Pattallassang, Kabupaten Gowa, untuk dimakamkan.
Bagi Ketua PGRI Kota Makassar Pantja Nur Wahidin, kepergian Mahmud Nuhung meninggalkan duka sekaligus jejak pengabdian panjang yang patut dikenang.
Dari ruang kuliah hingga berbagai amanah kelembagaan, almarhum telah menghabiskan puluhan tahun kehidupannya untuk pendidikan.
Karena itu, penghormatan terakhir keluarga besar PGRI bukan semata prosesi pelepasan, tetapi juga penghargaan atas perjalanan seorang pendidik yang telah ikut mencerdaskan generasi bangsa. ***












