News  

IWATI Sulsel dan Lions Club Jamu Ratusan Kaum Dhuafa di Restoran Mewah

NusantaraInsight, Makassar — Pemandangan penuh kehangatan mewarnai perhelatan akrab bertajuk “Bakti Sosial Menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 H”. Pengurus Ikatan Wanita Tionghoa Indonesia (IWATI) Sulawesi Selatan bersinergi dengan Lions Club Makassar sukses mengundang sekitar 200-an warga prasejahtera untuk menikmati momen buka puasa bersama di Restoran Runtono, Makassar, Selasa (17/3/2026) petang.

Gelaran kemanusiaan bertema “Merajut Harmoni Persatuan dalam Keberagaman di Bulan Suci Ramadan” ini disambut antusias oleh para dhuafa Kota Anging Mammiri. Dengan wajah berseri, mereka datang membawa kupon undangan untuk berkumpul bersama. Para tamu istimewa ini datang dari berbagai latar profesi lapangan, mulai dari pemulung, petugas kebersihan, pengayuh becak, pengemudi bentor, ojek daring, juru parkir, kuli bangunan, hingga penyapu jalanan.

Ada pemandangan unik di pelataran Restoran Runtono yang biasanya dipenuhi mobil mewah. Sore itu, deretan becak, bentor, gerobak sampah milik pemulung, hingga sepeda motor para ojek terparkir rapi di sepanjang jalan depan gedung. Kehadiran kendaraan-kendaraan rakyat ini menjadi simbol bahwa sekat sosial luruh dalam semangat berbagi.

BACA JUGA:  BMKG : Update Peringatan Dini Cuaca Sulsel Hari ini, Kota Makassar Terdampak

Membuka acara dengan penuh rasa syukur, Ketua Umum IWATI Sulsel, Wanni Horax, mengungkapkan kebahagiaannya melihat kerumunan warga yang berkumpul dengan sukacita. Ia menyapa langsung para tamu yang tengah bersiap menyantap aneka takjil dan hidangan spesial yang telah disiapkan pihak restoran.

“Kami merasa sangat terhormat bisa berbagi kebahagiaan di sore yang berkah ini. Melalui hidangan berbuka, paket lebaran, dan angpao ini, kami ingin mempererat tali silaturahmi. Ini adalah bentuk ketulusan kami untuk merawat persaudaraan dan membuktikan bahwa kebersamaan kita jauh lebih kuat daripada perbedaan apa pun,” ujar Wanni dengan penuh semangat.

Wanni juga menekankan bahwa Ramadan adalah momentum mulia untuk mempraktikkan toleransi secara nyata, bukan sekadar retorika. Ia berharap suasana kekeluargaan ini terus berlanjut dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari, di mana setiap warga bisa hidup berdampingan dengan landasan saling menghormati dan membantu satu sama lain.

Moderasi Beragama

Nuansa religius semakin kental dengan hadirnya Ustadz Muhammad Akib, S.Ag, yang membawakan tausiah menjelang azan magrib. Ia mengulas sejarah keteladanan Rasulullah SAW dalam menjunjung toleransi, yang kemudian dikorelasikan dengan nilai-nilai kebangsaan Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

BACA JUGA:  Perolehan Suara Seri, Ketua RW di Kelurahan Karampuang Makassar Ditentukan dengan Cara Dilot

“Moderasi beragama yang digalakkan pemerintah memiliki tolok ukur utama pada prinsip kebangsaan. Kita membutuhkan ukhuwah kebangsaan agar kedamaian senantiasa tercipta di mana pun kita berada. Dalam bingkai negara ini, persatuan adalah tujuan utama yang kita dambakan bersama,” pungkas sang Ustadz dalam ceramahnya.