News  

Ini Kata Mereka Terkait Seminar Nasional Bahasa Ibu

Bahasa Ibu
Seminar Nasional Bahasa Ibu Sulawesi Selatan

Terpisah, Founder Komunitas Anak Pelangi dan Kampus Lorong Rahman Rumaday menilai bahwa Seminar Nasional Bahasa Ibu Sulawesi Selatan tahun 2025 yang bertepatan dengan peringatan Hari Ibu Internasional pada 21 Februari, sangat penting artinya dalam pelestarian budaya di Sulsel.

“Saya mencatat ada poin penting yang harus dicapai dalam seminar ini, yaitu bagaimana mengembangkan trigatra bahasa yang meliputi, utamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah dan kuasai bahasa asing,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Rahman Rumaday kembali menekankan trigatra bahasa adalah slogan yang berisi tiga poin utama, yaitu: Utamakan bahasa Indonesia, Lestarikan bahasa daerah, Kuasai bahasa asing.

Ini merupakan rumusan perencanaan pembangunan bahasa yang menjadi identitas bangsa Indonesia.

Ini bertujuan untuk menyatukan keberagaman bahasa daerah di Indonesia, menjaga eksistensi dan keutamaan bahasa Indonesia di ruang publik, menjaga bahasa daerah sebagai simbol kebangsaan Indonesia.

“Ini juga bermanfaat memudahkan komunikasi antar masyarakat dari berbagai daerah, memudahkan pembelajaran di sekolah, memudahkan komunikasi dalam acara-acara formal dan menambah kekayaan budi kebangsaan dengan nilai kebatinan dari bangsa-bangsa lain,” pungkasnya.

BACA JUGA:  Jelang Muktamar V, Wahdah Islamiyah dan Paragon Satukan Semangat Keteladanan Serta Kebermanfaatan

Sekilas Hari Bahasa Ibu

Hari Bahasa Ibu Internasional adalah sebuah perayaan tahunan yang diselenggarakan di seluruh dunia pada tanggal 21 Februari untuk meningkatkan kesadaran akan keberagaman linguistik dan budaya serta untuk mempromosikan multibahasa.

Diumumkan pertama kali oleh UNESCO pada 17 November 1999,[1] kemudian diakui secara resmi oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan adopsi resolusi PBB A/RES/56/262 pada tahun 2002.

Hari Bahasa Ibu merupakan bagian dari inisiatif yang lebih luas “untuk mempromosikan pelestarian dan perlindungan semua bahasa yang digunakan oleh masyarakat dunia” seperti yang diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada 16 Mei 2007 dalam resolusi PBB 61/266 yang juga menetapkan tahun 2008 sebagai Tahun Internasional Bahasa.

Ide untuk merayakan Hari Bahasa Ibu Internasional berasal dari inisiatif Bangladesh. Di Bangladesh, 21 Februari (1952) adalah hari peringatan ketika orang-orang Bengali, yaitu Muslim Bengali Pakistan (sekarang Muslim Bengali Bangladesh) dari provinsi Pakistan Bengal Timur (sekarang negara bagian Bangladesh yang merdeka), berjuang untuk pengakuan bahasa Bengali mereka.

BACA JUGA:  Bertahan dengan Sepatu Robek dan Kekecilan, Wahyudi Akhirnya Tersenyum Bahagia Terima Sepatu Baru dari Rumah Zakat

Ini juga dirayakan oleh Bengali India di negara bagian India seperti Benggala Barat, Assam, Jharkhand, Tripura, dan Wilayah Persatuan Kepulauan Andaman dan Nikobar.

Hari Bahasa Ibu Internasional berasal dari pengakuan internasional terhadap Hari Gerakan Bahasa yang dirayakan di Bangladesh.

Resolusi bahasa internasional ini disarankan oleh Rafiqul Islam, seorang Bangli yang tinggal di Vancouver, Kanada. Ia menulis surat kepada Kofi Annan pada tanggal 9 Januari 1998, memintanya untuk mengambil langkah untuk menyelamatkan bahasa dunia dari kepunahan dengan mendeklarasikan Hari Bahasa Ibu Internasional (International Mother Language Day).

Akhirnya dipilihlah tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional karena pada tanggal tersebut, Bangladesh mengalami pembunuhan pada tahun 1952 dalam memperjuangkan bahasa Bangli di Dhaka.

Majelis Umum PBB meminta negara-negara anggotanya untuk mempromosikan semua bahasa yang digunakan oleh orang-orang di dunia pada tanggal 16 Mei 2009.

Sebelumnya pada tahun 2008 Majelis Umum menyatakan 2008 sebagai Tahun Bahasa Internasional untuk mempromosikan persatuan dalam keanekaragaman dan pemahaman internasional melalui multibahasa dan multikulturalisme.