Meskipun seorang perempuan, dia mampu mengelola sawah dan harta peninggalan suaminya dengan baik. Selain itu, dia punya tradisi unik. Melakukan ‘traveling’ (perjalanan) seorang sendiri.
Setiap tahun, pascapanen padi, dia memulai perjalanan silaturahim. Mengunjungi anak-anak dan saudara-saudaranya yang berjumlah 12 orang dan tersebar sampai ke Jawa dan Sumatera (Jambi dan Riau).
“Sebetulnya, sikap pemberani itu diwariskan oleh kakek saya H. Muhammad Nuhung,” imbuh Musdah.
Dia dikenal sebagai ulama yang berintegritas, kuat memegang prinsip.
Muammad Nuhung, sebagaimana kebiasaan orang Bugis-Makassar pembelajar, kesempatan menunaikan ibadah haji selalu digunakan menekuni pendidikan agama di Mekkah beberapa tahun lamanya.
Makanya, dia sangat ahli dalam ilmu agama sehingga terpilih sebagai Qadhi Kerajaan Bone. Semacam ketua pengadilan di era sekarang.
Muhammad Nuhung berani melawan raja yang dinilai sudah melanggar adat dan tradisi agama. Dia memilih keluar dari wilayah kerajaan Bone dengan membawa pergi seluruh keluarganya jika tidak sependapat dengan raja yang dianggapnya sudah melenceng dari adat dan tradisi.
Beliau menumpang perahu pinisi, berlayar meninggalkan Teluk Bone dan terdampar di pantai Jalang, pesisir timur Kabupaten Wajo.
Di sanalah dia membuka permukiman baru dan membina masyarakat setempat dengan mengajarkan tradisi agama.
“Salah satu nasihatnya — saya dengar dari nenek saya =- adalah beliau menentang penggunaan gelar-gelar kebangsawanan, dan melarang keturunannya memakai gelar-gelar tersebut. Sebab baginya, kebangsawanan seseorang harus dibuktikan dalam bentuk perilaku yang santun, jujur, adil dan bijaksana. Penggunaan gelar bangsawan menunjukkan sifat jahiliyah yang ditentang Islam,” kenang Musdah.
Akan halnya dengan Hj. Buaidah, ibunya, Musdah Mulia menyebutkan, dia sangat berwibawa.
“Kami semua anaknya tidak ada yang berani membantah perintahnya. Meskipun perempuan, ibu saya dikenal sangat tegas dan tidak takut pada siapa pun. Walaupun demikian, dia juga dikenal sangat penyayang dan penuh empati,” sebut Muslimah Reformis ini.
Ibunda Hj Buaidah selalu peduli pada pendidikan anak-anak di lingkungan keluarga besarnya/Dia selalu membantu dan mendorong para keponakan dan anak-anak dari keluarga besar melanjutkan pendidikan agar mendapatkan kehidupan yang lebih layak.
“Perhatiannya pada pendidikan sangat luar biasa. Sampai-sampai dalam usia yang sudah tidak muda lagi, beliau masih berusaha mengikuti kuliah di Fak. Ushuludin As’adiyah Sengkang,” pungkas Musdah Mulia. (mda).












