News  

Hj. Buaidah bint H. Achmad ‘Single Parent’ yang Lahirkan Dua Profesor

Ibunya bernama Hj. Fatimah binti H. Muhammad Nuhung. Dia anak keempat dari lima bersaudara. Semuanya sudah meninggal.

Hj. Buaidah seorang ibu yang membesarkan sendiri keenam putra-putrinya (single parent).

Keenam anaknya secara berurut-turut, Musdah Mulia, Alim Suryono, Dia Raya, Gemilang, Gustiati dan Yuspiani.

Dari enam anak almarhumah, yang sulung dan bungsu meraih jabatan akademik tertinggi, Profesor. Anak ketiga, Dia Raya, sempat meraih gelar akademik tertinggi, doktor, di MIPA Unhas, sebelum berpulang beberapa tahun silam.

Hj Buaidah merupakan perempuan pertama di desanya (Sajoanging, Wajo) yang berhasil melanjutkan pendidikan ke Pesantren Darul Dakwah wal Irsyad (DDI) yang terletak di Mangkoso, Kabupaten Barru sekarang.

Pada saat belum banyak, bahkan sangat langka perempuan melanjutkan pendidikan dengan harus meninggalkan desa kelahirannya. Jaraknya ketika itu ditempuh lebih dari dua hari perjalanan karena minimnya transportasi.

“Belum ada jalan yang langsung ke sana dari desanya, dan juga harus berganti-ganti kendaraan,” kenang putri sulung Almarhumah, Prof.Dr. Musdah Mulia, M.A. kepada media ini melalui komunikasi “whatsApp”, Senin (12/1/2026).

BACA JUGA:  Wujudkan WBBM 2025, Kemenkum Gorontalo Komitmen Bangun ZI

Kondisi pendidikan itu dimungkinkan terjadi karena nenek Musdah (Hj. Fatimah) bertekad menyekolahkan anak-anak perempuannya. Sebab, ia sendiri dulu dilarang bersekolah.

Di masa itu anak perempuan tidak lazim keluar rumah. Apalagi harus meninggalkan desa untuk menuntut ilmu.

Namun, neneknya tak peduli, meskipun harus dirundung habis-habisan oleh orang sekampung karena dianggap melanggar adat.

“Nenek melihat harus ada perubahan. Syukurlah ia bersikeras karena keputusannya itu pun kemudian memengaruhi hidup saya. Bagaimana sejak dini saya belajar bahwa perempuan berhak memperoleh pendidikan, setara dan merdeka,” imbuh Prof.Musdah.

Tamat dari pesantren tingkat Aliyah tahun 1955, Ibu Hj. Buaidah mulai mengamalkan ilmunya dengan berdakwah di beberapa masjid di desanya. Ketika itulah seorang Panglima Tentara DI/TII bernama H. Mustamin bin H. Abdul Fattah memperhatikannya. Setahun kemudian lalu melamarnya.

“Itulah ayah saya. Perubahan politik di awal Orde Baru menyebabkan ayah harus pindah ke Riau. Ibu memilih kembali ke Sulawesi Selatan membesarkan sendiri anak-anaknya. Rela menjadi orang tua tunggal demi anak-anaknya,” kenang Musdah Mulia.

BACA JUGA:  Sinergi Kampus dan Petani: Greenhouse Merica di Tompobulu Kini Lebih Efisien

Ibunda Hj Buaidah seorang pemberani, mandiri dan bertanggungjawab. Sikap inilah yang selalu ditanamkan kepada anak-anaknya. Sikap pemberani itu dia warisi dari ibunya, Hj. Fatimah yang juga single parent karena suaminya meninggal muda dan mewariskan harta yang banyak.