Jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 berjenis kelamin laki-laki akhirnya teridentifikasi atas nama Deden Maulana setelah tes post mortem dan antre mortem di Posko DVI Biddokes Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) di Jalan Kumala Makassar, Rabu malam.
Korban diketahui sebagai pegawai bidang pengelola barang milik daerah di KKP yang turut menjadi penumpang pesawat ATR milik Indonesia Air Transport (IAT) tersebut.
Kepala BPPSDM KP, I Nyoman Radiarta, Ketua DWP BPPSDM KP, Ila Radiarta, serta sejumlah pegawai hadir memberikan penghormatan terakhir. Kehadiran mereka mencerminkan empati, kepedulian, dan kebersamaan keluarga besar KKP.
Upacara persemayaman dilaksanakan secara kedinasan dengan Inspektur Upacara Dirjen PSDKP dr.Pung Nugroho Saksono, A.Pi., M.M. Prosesi ini juga dihadiri Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, jajaran pimpinan, keluarga, rekan kerja, serta taruna Politeknik AUP yang turut mengiringi prosesi dengan penuh rasa hormat.
Berdasarkan pantauan di lokasi, sekitar pukul 22.05 WITA, nampak peti jenazah bertuliskan nama Dede Maulana dengan label post mortem PM.62.B.02 dikeluarkan dari ruangan post morten.
Peti itu kemudian diserahkan ke keluarga Deden.
Peti jenazah itu, diterima oleh perempuan bernama Verawati istri Deden. Vera pun tak kuasa membendung air mata. Tangannya gemetar, saat berkas hasil pemeriksaan itu diserahkan oleh Kasubdit Dokpol Biddokkes Polda Sulsel, AKBP Elvis J. Penyerahan korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 atas nama Deden Maulana kepada keluarga di Polda Sulsel, Rabu (21/1/2026).
Setelah penyerahan itu, peti jenazah langsung dinaikkan ke mobil ambulans lalu dibawa ke Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.
Jenazah Deden ditemukan pada Minggu (18/1) siang, di jurang dengan kedalaman 200 meter dari puncak. Ia menjadi korban pertama yang jenazahnya ditemukan oleh tim SAR.
Pada hari itu juga, tim SAR gabungan telah berusaha mengevakuasi Deden. Tapi karena medan dan cuaca ekstrem, proses evakuasi tidak dapat dilakukan. Tim SAR baru berhasil mengevakuasi ke RS Bhayangkara Makassar setelah tiga hari lamanya.
Deden dievakuasi menggunakan helikopter ke Lanud Hasanuddin, pada Rabu (21/1/2026) pagi. Kemudian, dilanjutkan perjalanan ke RS Bhayangkara menggunakan ambulans. (*/mda).












