News  

Dakwah dan Pembangunan dalam Perspektif Bung Hatta

Muttaqin juga menyinggung firman Allah dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11, yang menyatakan bahwa perubahan suatu kaum bergantung pada upaya mereka sendiri untuk mengubah keadaan. Ayat ini, menurut Bung Hatta, menjadi pengingat bahwa perubahan sosial tidak mungkin terjadi tanpa usaha manusia.

Menutup pemaparannya, Muttaqin menegaskan bahwa Bung Hatta melihat pembangunan sebagai tanggung jawab bersama. Pemerintah memiliki peran dalam urusan besar, pengusaha pada urusan menengah atau sedang terutama sektor ekonomi/modal, sementara masyarakat kecil dapat memperkuat diri melalui koperasi.

“Setiap orang punya peran dalam pembangunan dan harus ikut serta dalam usaha tersebut, menurut kecakapannya masing-masing,” pungkasnya.

Dalam sesi tanggapan, beberapa peserta mengaitkan pemikiran Bung Hatta dengan kondisi dakwah saat ini. Seorang peserta menyoroti bahwa berbuat baik tidak seharusnya bergantung pada situasi lingkungan, tetapi lahir dari kesadaran kepada Allah. Dengan orientasi semacam itu, seseorang tidak mudah patah semangat dalam berkontribusi bagi masyarakat.

Menanggapi peserta, Muttaqin menegaskan bahwa dalam pandangan Bung Hatta, setiap aktivitas manusia, termasuk kerja sosial dan pembangunan masyarakat, harus berangkat dari kesadaran spiritual serta keikhlasan dalam pengabdian kepada Allah. Keikhlasan itu, menurutnya, tidak sekadar sikap batin, tetapi tercermin dalam kesediaan seseorang berjalan bersama orang-orang yang beriman, taat, dan berkomitmen pada kebenaran.

BACA JUGA:  Waspada Cuaca Ekstrem, Rumah Zakat Lakukan Apel Kesiapsiagaan Relawan

Muttaqin menutup diskusi dengan mengingatkan bahwa Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas amal dan kontribusi sosial. Dalam perspektif Bung Hatta, pembangunan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan manusia yang dilandasi nilai-nilai ketuhanan dan keikhlasan.

Diskusi berakhir tepat pukul 18.00 Wita. Seperti biasa diskusi ini dihadiri oleh peserta dari beragam kelompok, dari Aparatur Sipil Negara, Aktivis Lingkungan, Akademisi, Mahasiswa dan pelaku usaha UMKM. (RW)