Menurut Dahlan, mereka mendengar, katanya, saya memesan grab.
“Saya langsung membantah. Bagaimana saya memegang grab sudah menelepon adik kandung sendiri,” Dahlan menentang.
Informasi yang diperoleh media ini, kejadian serupa juga terjadi beberapa waktu yang lalu. Adiknya itu menjemput keluarga istrinya yang hendak diantar ke Dompu. Saat tiba di halaman bandara terjadi perdebatan serupa.
“Saya tidak masalah, silakan ambil dan komunikasi dengan calon penumpangnya,” kata adiknya.
Keluarga istrinya itu yang kebetulan karyawan salah satu kantor di Dompu tidak kalah ‘galak’-nya.
“Kalian siapa? Saya tidak kenal kalian. Saya tidak yakin apakah saya akan aman sampai di tujuan dibandingkan jika saya diantar oleh keluarga sendiri,” katanya dengan tegas yang membuat pengemudi taksi itu kemudian menyerah.
Dahlan menyarankan, sebaiknya dilakukan komunikasi yang santun dan baik jika menemukan pengemudi yang dikenal sebagai kendaraan online menjemput di bandara. Sebab tidak mungkin sebagai pengemudi online itu menjemput di bandara, kalau bukan keluarganya sendiri. Apalagi harus diantar ke tujuan yang jaraknya 50 km dari bandara. Dan tidak mungkin menggunakan kendaraan taksi bandara yang tentu saja tarifnya mahal.
“Saya sudah sering dijemput adik jika pulang ke Bima, baik menggunakan pesawat atau pun kapal laut. Tidak ada masalah,” kata Dahlan yang mengharapkan agar pihak Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima memantau tingkah laku para pengemudi taksi itu jika sedang berkomunikasi dengan para penumpang yang tiba di bandara itu.
“Ulah para sopir taksi tersebut bisa merusak citra Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima di mata para pendatang yang hendak menggunakan taksi bandara,” kuncinya. (*).













