Denyut Kehidupan di Car Free Day (9): Jejeran Kukusan Hasil Bumi Uapi Jl. Boulevard

Katanya, mengukus pangan hasil berburunya di pasar tidak sesusah mengadon tepung terigu hingga akhirnya menjadi kawanan bala-bala. Pagi hari cukup ramah padanya, lapak sejuk dengan hangatnya hasil bumi menemani tangannya yang terampil melayani pembeli. Menanggapi kami, dan mengorganisasi besar api.

Masalah sarapan kriuk, Aji Ariani punya melon berpotongan besar bersama dengan pepaya dan semangka menyesakkan tutup thinwall (alat tipis) yang hampir susah ditutup. Panasnya Makassar cukup terobati dengan air buah yang menggulir mengetuk satu-satu alat bicara kami yang sempat serak dijemur campuran sinar matahari dan lalu lalang udara pengunjung.

Kalimat “kukusannya Aji,” seakan menyihir telinga rombongan ibu-ibu senam yang berpeluh menggerakkan badan usai menghadiri kelas zumba dengan lagu paling energik tahun ini. Habis berolahraga, mereka makan sehat, dan bersama teman. Nikmat mana lagi yang kau dustakan.

“Sudah banyak yang menjual pakaian, jadinya saya mulai tidak menjual pakaiaan. Kukusan alhamdulillah ramai yang beli,” ucapnya sambil jongkok sibuk meraba-raba kantong bawaannya mencari plastik kecil untuk membungkus ikan asin berukuran sedang sebelum diberikan kepada pembeli.

BACA JUGA:  Baliho Politik: Amir Uskara Tabe Gowa 2024

Tangannya cekatan mengemas bubur ayam dalam thin wall. Menutupnya rapat berharap hangatnya berlindung pada bulir-bulir bubur meski lama bersemayam di bawah penutup plastik itu. Kerupuk bawang aneka warna juga dijajakan melengkapi hierarki bubur ayam bertekstur lembut, gurih, berpesta di mulut bersama kriuknya kerupuk.

Adanya kukusan di tengah melonjaknya hidangan penuh tepung cukup menjanjikan kesehatan perut dan dompet. Tidak melibatkan poster gonjreng, teriakan monoton, pemandangan mengukus dan menyiapkan makan pagi seolah menjadi pertunjukan sementara bagi siapa pun yang berjalan di depan lapak.

Pemandangan yang biasa terlihat di dalam singgasana pribadi tanpa aba-aba muncul saat mencari nasi. Berakhir membawa memori tentang ibu yang dulu selalu menyiapkan makan pagi. Nenek yang bangun lebih cepat dari ayam jantan, hingga ingatan tentang tetangga beberapa blok terlintas ketika kulit umbi-umbian yang mulai layu dikukus melebarkan aromanya.

Laju kota beradu dengan agenda jalan kaki dan obrolan hangat bersama keluarga memenuhi Jalan Boulevard mengajak sepuluh jari kaki di bawah untuk melangkah lebih pelan dan lebih pelan lagi. Perut yang rindu akan suasana dapur belakang di rumah nenek bagaikan konsep mula Aji Ariani menyajikan haru di tengah kukus meskipun ia memetik rezeki di jalan masih berumur varietas sawi; 3 minggu.