Denyut Kehidupan di Car Free Day :(14-Habis): “Menjaga Rasa & Warisan: Kue Pancong Pak Nasir

Aku membeli sepuluh ribu rupiah untuk delapan potong. Gigitan pertama membuatku terdiam sebentar. Teksturnya lembut tapi agak kasar di pinggir, manisnya tidak berlebihan, pas di lidah, ada rasa kelapa yang khas di tiap kunyahan. Legit dalam gigitan, begitu mungkin kata yang paling pas di pikiranku.

Teman-temanku yang datang bersamaku juga mencicipinya. “Enak banget,” kata salah satu dari mereka sambil tersenyum puas. Kami saling pandang, mengangguk, seolah sepakat tanpa perlu berpikir panjang seolah ragu.

Pak Nasir tampak bahagia setiap kali ada pembeli yang tersenyum atau berkata enak. Ia tersenyum, lalu cepat-cepat menyiapkan pesanan berikutnya. Ada kelembutan dalam caranya berinteraksi, tidak tergesa tidak pula terlalu santai, seolah setiap pembeli adalah tamu yang
harus dilayani dengan hati-hati.

“Ini berbeda dengan kue pancong yg lain, ini masih menggunakan resep nenek, biar orang tahu rasanya beda,” tambahnya. Ia tidak memakai pemanis buatan. “Kalau mau dikasih topping, paling susu kental manis atau pasta.

“Alhamdulillah, hasil jualan cukup untuk makan dan kebutuhan pokok,” ujarnya sambil menuang adonan baru. “Kalau bisa, dagangan laku terus. Itu saja harapannya.”

BACA JUGA:  Musyawarah Pengurus Remaja Masjid Baburroyyan Griya Antang Harapan

Ia tertawa kecil, tapi dalam matanya ada harapan yang lebih besar dari sekadar dagangan laku. “Mimpi kami,” katanya pelan, “semoga jualan ini membawa berkah, bisa ubah hidup keluarga jadi lebih cukup. Dulu keluarga susah, sekarang kami mau ubah itu.”

Kata-katanya membuatku diam lama. Di tengah panas dan hiruk-pikuk CFD, ada seseorang yang hidupnya berputar di antara adonan, cetakan, dan doa. Setiap potongan kue pancong yang ia panggang adalah bukti bahwa perjuangan bisa hadir dalam bentuk apa pun termasuk dari gerobak di pinggir jalan.

Sebelum pergi, aku sempat bertanya satu hal terakhir. “Kalau nanti tidak ada yang meneruskan, bagaimana, Pak?”
Ia berhenti sebentar, lalu berkata, “Kalau bisa, kue ini jangan sampai hilang. Ini kue tradisional. Kalau bisa tambah banyak yang jual, tambah dikenal lagi.”

Suara itu terdengar seperti doa, apalagi zaman di mana makanan viral datang dan pergi secepat notifikasi di ponsel.

Ketika aku memperhatikan sekitar, aku melihat banyak orang seperti dia. Ada yang menjual minuman, pakaian, kebab, gorengan, donat kentang dan lain sebagainya. Semua berdiri di bawah terik matahari. Aku membayangkan, di balik setiap tenda kecil itu ada cerita serupa yaitu tentang bertahan, tentang tidak menyerah, tentang keluarga yang menunggu di rumah.

BACA JUGA:  Menelusuri Kembali Xnofobia Tionghoa

Matahari sudah mulai naik aku dan temanku mulai bergegas, CFD Boulevard pagi itu seolah menjadi ruang pertemuan antara semangat dan kenyataan. Orang-orang berolahraga untuk menjaga tubuh, sementara orang seperti Pak Nasir bekerja untuk menjaga kehidupan. Dua-duanya sama-sama berjuang, hanya dengan bentuk yang berbeda.