Denyut Kehidupan di Car Free Day (13): Semangkuk Bubur “Dari Roda Odong-Odong ke Roda Kehidupan”

Katanya, “Yang penting bisa kerja, Nak… bisa bikin anak-anak senang,” terdengar kalimat itu terucap lirih, namun menggema lama di kepala saya.
Di balik keceriaan odong-odong yang berputar itu, tersimpan kisah tentang keteguhan hati seorang pria yang memilih bertahan, meski hidup sudah tak lagi berpihak sepenuhnya.

Sejumlah tantangan harus ia hadapi setiap hari. Rantai odong-odong yang seringkali putus. Roda yang kadang macet. Hingga, mesin yang tiba-tiba mogok membuat pekerjaannya tak selalu berjalan mulus.

“Kalau sudah begitu, ya terpaksa tidak bisa keluar,” ujarnya dengan nada pasrah.

Namun bukan hanya itu. Hujan juga menjadi ujian lain baginya. Bagi sebagian orang, hujan mungkin membawa rasa rindu atau ketenangan, tetapi bagi Irwan, hujan berarti pintu rezeki yang tertutup.

“Kalau hujan, anak-anak tidak datang,”. Di saat banyak orang menikmati aroma tanah basah, Irwan justru harus rela kehilangan pendapatannya hari itu.
Pendapatan yang ia peroleh pun tak seberapa. Hanya sekitar seratus hingga dua ratus ribu rupiah per hari.

BACA JUGA:  SUKSES 86 Merajut Kebersamaan

Bergantung seberapa banyak anak-anak yang datang bermain. Kadang, tak satu pun anak naik, karena ada orang tua yang melarang atau lebih memilih mengajak anaknya pulang lebih cepat.

Namun Irwan tidak pernah menghitung untung rugi seperti para pemilik modal besar. Ia tidak mengejar kekayaan.

Tidak pula bermimpi tentang laba berlipat. Baginya, cukup bisa membawa pulang sedikit uang untuk membeli beras dan memenuhi kebutuhan keluarganya sudah menjadi berkah yang patut disyukuri. Yang penting, asap dapur dapat terus mengepul.
Wawancara singkat itu mengubah cara pandang saya terhadap dunia.

Hanya beberapa menit berbincang, tapi rasanya seperti menyingkap jendela baru dalam memahami kehidupan. Dari balik tawa anak-anak yang riang di atas odong-odong dan suara musik yang berputar pelan, ternyata saya belajar memaknai hidup dari sudut yang sederhana namun penuh makna.

Pak Irwan, sang supir odong-odong, bercerita tentang kehidupannya dengan nada tenang. Seolah segala lelah dan getir sudah menjadi bagian alami dari hidup yang harus disyukuri.

BACA JUGA:  Pasar Sore Ngobr(a)ol Indonesia Darurat Tambang di Rumah Buku

Cara ia memandang dunia membuat saya tertegun. Ada keikhlasan yang jarang saya temui. Ada kebahagiaan yang tumbuh bukan dari berlimpahnya materi, melainkan (tapi) dari tawa anak-anak yang ia antar berputar keliling CFD setiap hari Minggu.

Usai perbincangan itu, saya melanjutkan langkah mencari sarapan semangkuk bubur di pinggir jalan. Namun di tengah perjalanan, hati saya tergerak untuk kembali. Entah kenapa, ada rasa yang belum tuntas. Saya membeli seporsi makanan berat dan kembali ke tempat Pak Irwan mangkal.