News  

Buku Puasa sebagai Terapi Otak Merupakan Kolaborasi-Integrasi Agama dan Sains

“Hadis ini bukan hanya menjadi motivasi religius tetapi hipotesis ilmiah yang perlu ditelusuri. Puasa merupakan ibadah yang sarat nilai spiritual, tetapi juga terbukti memiliki kekuatan ilmiah dalam memulihkan berbagai sistem tubuh, termasuk otak dan saraf,” imbuh Dr dr Jumaraini.

Dr H Andi Muhammad Akmal, yang berkolaborasi dengan Dr Jumraini dalam penulisan buku Puasa sebagai Terapi Otak, mengatakan sebagai seorang yang berlatar belakang kajian syariat, buku ini sebagai bukti nyata keharmonisan antara wahyu dan sains.

“Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sebuah latihan ketaatan yang dampaknya terbukti melampaui dimensi spiritual,” jelas Dr Andi Muhammad Akmal.

Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar itu menambahkan, sisi fikih (hukum) puasa telah mengatur batas waktu, rukun, dan syarat. Namun sisi hikmah (kebijaksanaan) puasa, baru terungkap secara mendalam melalui kajian neurorestorasi.

Apresiasi diberikan oleh Prof Dr Muhammad Akbar, Guru Besar Bidang Neurologi Fakultas Kedokteran Unhas, kepada para penulis dan editor buku Puasa sebagai Terapi Otak.

BACA JUGA:  Diskusi Akhir Tahun 2024 KAHMI Sulsel: Dinamika Pilkada Tidak Langsung, Efisiensi atau Kepentingan Politik

Katanya, jarang ada kolaborasi lintas ilmu, di mana penulisnya berlatar belakang neurorestorasi, dan satunya lagi punya kajian fikih. Sementara editornya, Dr Tammasse, M.Hum, berlatar belakang sastra.

“Peluncuran pada bulan puasa ini sangat tepat karena sejumlah materi dalam buku membahas kaitan puasa dengan ilmu kedokteran. Berpuasalah agar otak kita sehat,” ujar Prof Dr Muhammad Akbar.

Pujian juga datang dari Prof Dr Sukardi Weda, yang menilai buku Puasa sebagai Terapi Otak, memberikan panduan praktis menjalankan puasa untuk restorasi otak.

“Secara neurologis, ketika seseorang berpuasa, ia menahan diri dari kepuasan instan, melatih fokus, dan memperkuat kemampuan pengendalian impuls yang bertalian erat dengan kinerja otak,” papar Guru Besar Fakultas Bahasa dan Sastra UNM. (*)