News  

Buku Puasa sebagai Terapi Otak Merupakan Kolaborasi-Integrasi Agama dan Sains

NusantaraInsight, Makassar — Puasa bukan hanya berdampak pada sistem metabolik, tetapi juga berpengaruh positif terhadap proses neuroplastisitas, stres oksidatif, serta regulasi neurotropik, yang kesemuanya berperan dalam mendukung pemulihan fungsi saraf.

Tujuan utama puasa dalam konteks neurorestorasi adalah mengaktifkan mekanisme biologis dan psikologis untuk membersihkan dan meregenerasi sel saraf, mengurangi peradangan dan stres metabolik, meningkatkan fungsi kognitif dan emosional, serta menyeimbangkan sistem imun dan hormonal.

Hal ini terungkap dalam bedah buku Puasa sebagai Terapi Otak: Perspektif Neurorestorasi Modern dalam Penyakit Neurologis, karya Dr dr Jumraini, Sp.S, Subsp, NRE(K), dan Dr H Andi Muhammad Akmal, S.Ag, M.H.I (Nas Media, 2026.

“Buku ini didasarkan pada pengalaman saya selama lebih 20 tahun berinteraksi dengan penderita gangguan sistem syaraf, khususnya pada kasus stroke dan kondisi neurodegeneratif,” terang Dr dr Jumraini, yang juga merupakan Ketua Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Unhas.

Acara Bedah Buku dan Dialog Ramadhan ini bertema “Harmoni Ramadan: Literasi Ramadan & Buka Puasa Bersama”, bertempat di Multifunction Room Citraland Tallasa City, Ahad, 8 Maret 2026.

BACA JUGA:  Rumah Diskusi itu Bernama KDB

Kegiatan ini menampilkan narasumber Dr dr Jumraini Tammasse, Sp.S, Subsp.NRE(K) (Penulis Buku), Dr. H. Andi Muhammad Akmal, S.Ag., M.H.I. (Penulis Buku), Prof dr Muhammad Akbar, Ph.D, Sp.N(K), Subsp.NIOO(K), DFM (Pembahas Perspektif Ilmiah), dan Prof. Dr. Sukardi Weda, S.S., M.Hum., M.Pd., M.Si., M.M., M.Sos.I., M.A.P. (Pembahas Perspektif Nilai dan Etika), dengan moderator Deny Azis.

Peserta diskusi terdiri dari mahasiswa Fakultas Kedokteran Unhas, staf dan karyawan Inggit Medical Centre, dan tamu undangan, antara lain Prof Dr Munira Hasjim, Kepala Perpustakaan Unhas, dan Rusdin Tompo, penulis dan penggiat literasi yang juga Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan.

Buku Puasa sebagai Terapi Otak, kata Dr dr Jumraini, merupakan hasil refleksi keilmuan dan praktik klinisnya sebagai Dokter Spesialis Neurologi.

Pendiri klinik Inggit Medical Centre itu menambahkan, selama menjalani profesi di bidang neurologi, dia menyadari bahwa proses pemulihan atau restorasi neurologis, tidak semata-mata ditentukan oleh pendekatan farmakologis dan rehabilitatif saja.

Namun sangat mungkin diperkuat melalui pendekatan non-farmakologis berbasis nilai-nilai spiritual dan biologis yang sinergis.

BACA JUGA:  Seleksi Kompetensi Dasar Catar Poltekip dan Poltekim Kemenkumham 2024

Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah puasa, berdasarkan Hadis “Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat” (HR Ath-Thabrani, dalam al-Mu’jam al-Awsath, [Kairo, Darul Haramain, 1415], jilid VIII, hlm 147).