Muh.Syarif menyebut, potensi zakat di Kota Makassar Rp1,3 triliun. Karena itu, pemimpin baru BAZNAS harus mampu mengelola dan memanfaatkan potensi itu demi kesejahteraan ummat.
H.M.Ashar Tamanggong mengharapkan pimpinan BAZNAS ke depan harus selesai dengan dirinya. Artinya, ketika terpilih pemimpin BAZNAS tersebut tidak memikirkan untuk mencari hidup di lembaga pemerintah nonstruktural tersebut.
Penulis Buku “Langit tak Pernah Offline” itu pemimpin BAZNAS ke depan juga tidak boleh terlepas dari semangat “Siri’ na Pacce”. Sifat ini menjadi ruh masyarakatnya harus diterjemahkan ke dalam program zakat yang produktif.
ATM-sapaan akrab dai kondang kelahiran Takalar ini mengemukakan, pemimpin baru BAZNAS Makassar dituntut memiliki visi untuk mengubah mustahik (penerima zakat) menjadi muzakki (pemberi zakat),” ujarnya.
Idealnya, nakhoda BAZNAS Makassar ke depan adalah seseorang yang memiliki “Otak Korporasi” (untuk memenuhi tuntutan profesionalisme Muzakki dalam mengelola dana) dan “Hati Seorang Aktivis” (untuk memenuhi kebutuhan empati dan pelayanan Mustahik).
Mencari pemimpin BAZNAS Makassar adalah mencari seseorang yang bisa mendamaikan antara “kewajiban berzakat yang harus menenangkan Muzakki” dan “penerimaan zakat yang harus memuliakan Mustahik”.
Sementara itu Amir mengemukan, seorang pemimpin BAZNAS harus memiliki integritas.
BAZNAS Kota Makassar layak mendapatkan pemimpin zakat yang tidak hanya ahli dalam konsep, tetapi juga tangkas di lapangan, dan jujur dalam setiap sen yang mengalir.
Sebab pada akhirnya, suksesnya BAZNAS bukan diukur dari berapa banyak dana yang terhimpun di neraca keuangan, melainkan berapa banyak senyuman di wajah mustahik yang berhasil dikembalikan oleh integritas muzakki.
Seperti diketahui, meski kota bertajuk “Kota Makan Enak” ini memegang peran krusial sebagai jembatan distribusi keadilan sosial.
Karena itu mencari pemimpin baru BAZNAS Makassar bukan soal mencari sosok yang sempurna di satu sisi, melainkan mencari sosok hibrida.
Kota Makassar layak mendapatkan pemimpin zakat yang tidak hanya ahli dalam konsep, tetapi juga tangkas di lapangan, dan jujur dalam setiap sen yang mengalir.
Sebab pada akhirnya, suksesnya BAZNAS bukan diukur dari berapa banyak dana yang terhimpun di neraca keuangan, melainkan berapa banyak senyuman di wajah Mustahik yang berhasil dikembalikan oleh integritas Muzakki. (din pattisahusiwa/tim media baznas kota)













