News  

BAZNAS Makassar Mencari Pemimpin

NusantaraInsight, Makassar — Mencari pemimpin baru Badan Amil Zakat Nasional ((BAZNAS) Kota Makassar  bukan sekadar prosedur administratif lima tahunan. Ini adalah pencarian akan visi.

BAZNAS itu membutuhkan pemimpin yang berani mendobrak kemapanan, mengadopsi teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai luhur. Dan, tentunya yang paling terpenting adalah, membawa BAZNAS menjadi lembaga yang tidak hanya sekadar “ada”, tetapi menjadi motor penggerak kebangkitan umat di era berkemajuan saat ini.

Lima tahun belakangan, BAZNAS Kota Makassar sudah maju. Apalagi saat kota ini dipimpin Walikota dan Wakil Walikota Munafri Arifuddin dan Aliyah Mustika Ilham. Meski begitu, saatnya, pengelolaan zakat di kota ini juga harus melompat, melampaui zamannya.

“Untuk itu, siapa pun nakhoda yang terpilih nanti, dia memikul tanggung jawab besar. menjadikan zakat sebagai instrumen kemuliaan bagi warga kota di ibukota Sulawesi Selatan ini” demikian yang mengemuka dalam “Ngopi ngobrol pintar, Mencari Pemimpin Baru BAZNAS Makassar” yang digelar PRIMA DMI Kota Makassar, di Warkop  Kualiti Coffe, Jalan Tudopoly Raya Makassar, Sabtu, 11 April 2026.

BACA JUGA:  Ika Smansa Angkatan 80 Berbagi Takjil: Menyasar Kaum Dhuafa di kota Makassar

Dalam Ngopi Ngobrol yang dihadiri berbagai elemen, termasuk sejumlah kader Ormas Elang Timur Indonesia itu dibuka Ketua DMI Kota Makassar, Drs.Yunus DJ.

Tiga pemateri masing masing  Kepala Bagian Kesra Kota Makassar–H.Muh. Syarief, Ketua BAZNAS Kota Makassar– HM.Ashar Tamanggong, dan Ketua Rumah Zakat Sulsel–Amir, St, MM, sama sama mengakui, pemimpin BAZNAS Makassar harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi.

Artinya, pemimpin BAZNAS itu adalah seorang yang tidak hanya duduk di belakang meja semata, melainkan mampu merasakan denyut nadi masyarakat di kawasan pesisir, di lorong-lorong sempit, hingga di perkampungan perkampungan kumuh.

Pemimpin BAZNAS lima tahun ke depan, harus menjadi pembaharu yang tetap memegang teguh akuntabilitas berbasis syariah. Di pundaknya, amanah umat dititipkan. Di tangannya, masa depan muzakki dan mustahik di Makassar akan dibentuk.

Bahkan, di era berkemajuan saat ini, pemimpin BAZNAS tidak bisa berdiri sendiri. Dia harus memiliki kapasitas diplomatik yang kuat untuk membangun kolaborasi pentahelix, dengan Pemerintah kota, akademisi, komunitas/ormas, dunia usaha, dan media.

BACA JUGA:  Buku Puasa sebagai Terapi Otak Merupakan Kolaborasi-Integrasi Agama dan Sains

Selain itu, dia juga aa harus mampu meyakinkan para pengusaha di Makassar bahwa membayar zakat melalui Baznas bukan hanya kewajiban agama, tapi bentuk tanggung jawab sosial (CSR) yang terukur dan berdampak luas bagi stabilitas ekonomi kota. Sinergi ini akan menjadikan Baznas sebagai mitra strategis pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan ekstrem di Makassar.