Menurutnya, penelitian bersama dan penyesuaian teknologi dengan kondisi lokal menjadi elemen esensial dalam pelaksanaan Proyek RISE di Makassar.
Dia menyebutkan, pendekatan ini menunjukkan bahwa inovasi perkotaan tidak harus selalu dimulai dari teknologi berskala besar.
“Solusi berbasis alam yang dirancang sesuai kebutuhan kawasan dapat menjadi bagian dari strategi untuk membangun kota yang lebih tangguh,” katanya.
Dia menambahkan, melalui forum internasional tersebut, Makassar membawa pengalaman bahwa pembangunan kota masa depan perlu menghubungkan inovasi, kemitraan global, dan kebutuhan nyata masyarakat.
Appi menekankan, bagi Pemerintah Kota Makassar, pengembangan teknologi hijau bukan sekadar upaya memperbaiki kualitas lingkungan, melainkan juga bagian dari strategi membangun kota yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
“Serta tangguh menghadapi banjir, dan semakin layak dihuni oleh masyarakat,” tutup Appi.
Diketahui, forum yang digelar di lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut menjadi ruang bagi para pemimpin kota untuk bertukar pengalaman, membahas tantangan perkotaan, serta merumuskan pendekatan pembangunan.
Pertemuan itu, mengangkat pertanyaan strategis mengenai kebijakan, program, dan investasi yang dilakukan setiap kota untuk menghadirkan transportasi umum dan mobilitas aktif yang aman, terjangkau, mudah diakses, serta berkelanjutan.
Perhatian khusus diberikan kepada kelompok yang membutuhkan aksesibilitas lebih baik, seperti perempuan, anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, masyarakat berpenghasilan rendah, serta warga di kawasan yang belum terlayani secara optimal.
Para pemimpin kota juga didorong membahas langkah konkret dalam memperkuat keselamatan jalan melalui infrastruktur yang lebih aman, pengendalian kecepatan, serta integrasi aspek keselamatan dalam perencanaan transportasi.
Partisipasi Makassar dalam forum internasional ini membuka ruang bagi pertukaran gagasan dan pengalaman dengan kota-kota lain. (*)












