Ditegaskan bahwa dirinya tidak mau menjadi penguasa tunggal di DMI Panakkukang. Justru dengan mendelegasikan sebagian kewenangannya kepada pengurus lain maka beban sebagai ketua tak harus dipikul sendiri. Pada saat bersamaan, pengurus dan anggota DMI juga akan merasa memiliki organisasi ini.
“Hal seperti itu yang mesti dibangun. Di organisasi, jangan ada one man show,” tandasnya.
Iwan Azis mengibaratkan DMI sebagai sebuah bangunan, yang terdiri atas tiga dimensi. Ada fondasi sebagai dasar berdirinya yang kokoh, ada tiang beserta dinding sebagai penopang, serta atap sebagai peneduh. Membuat bangunan ini, juga butuh semen, batu, dan pasir. Katanya, bila salah satu unsur tidak ada, maka kita tidak bisa membuat campuran untuk membangun gedung yang bernama DMI tersebut.
Beliau menjelaskan, kalau terjadi dinamika di antara pengurus DMI di tingkat kecamatan, sebaiknya tidak serta-merta diambil alih oleh DMI pada tingkat kota, atau DMI di provinsi, dan seterusnya. Biarlah penyelesaian itu dilakukan secara internal dan berjenjang. Ia yakin, dengan semangat silaturahmi dan ukhuwah Islamiah, setiap persoalan akan menemukan solusinya. Menurutnya, spirit kebersamaan dan soliditas sebagai satu organisasi, dimiliki oleh setiap orang yang sudah mewakafkan dirinya mengurus umat melalui DMI.
Ditambahkan, DMI itu organisasi besar, yang terbentuk secara nasional. Sebaiknya, tidak menggunakan cara-cara veto untuk mengintervensi pengurus DMI di bawahnya. Biarlah semangat musyawarah mufakat lebih dikedepankan, semangat saling menghargai, demi menjaga muruah DMI itu sendiri.
Iwan Azis mengatakan, kalaupun nanti, misalnya, dalam dinamika di DMI kecamatan ada yang tidak bisa terselesaikan, baru dibawa ke DMI kota untuk dimediasi. Jangan DMI kota yang tiba-tiba turun tangan mengambil alih kewenangan yang ada pada DMI kecamatan. Hal-hal seperti ini perlu diluruskan, demi tertib berorganisasi, dan agar sesuai aturan main yang ada. Di DMI itu, tegasnya, tidak boleh ada sistem komando. Ketua dan pengurus mesti meletakkan organisasi dalam semangat demokrasi.
“Hanya dengan begitu, DMI akan tumbuh sebagai organisasi besar.” imbuhnya.
Saya terus menyimak penjelasan Iwan Azis tentang pengalamannya memimpin DMI Panakkukang. Ia menawarkan saya untuk memesan pisang atau ubi goreng. Namun, rasa-rasanya perut tak lagi bisa menampung pisan atau ubi goreng itu. Pasalnya, semangkuk indo mie telur sudah tandas sebagai menu makan siang.
Iwan Azis mengingatkan. Sebaiknya tidak ada yang saling mengambil alih kewenangan. Kewenangan tidak boleh tumpeng tindih. Masing-masing jenjang organisasi sudah punya tupoksinya sendiri-sendiri. Namun, kalau suatu kewenangan sudah dirampas, maka dia menganggap sudah tidak ada lagi nilai dari orang yang bersangkutan. Orang tersebut kehilangan wibawa dalam konteks organisasi.












