Pemerintah Kota Makassar nantinya akan memberikan sejumlah titik yang dinilai potensial untuk kemudian dikaji oleh tim Unhas sebelum masuk tahap pelaksanaan.
“Minimal 50. Nanti kami asesmen. Kalau Pak Wali sudah memberikan titik-titiknya, kami akan asesmen. Dari hasil asesmen itu baru kita coba eksekusi,” katanya.
Dia menambahkan, konsep yang ditawarkan Unhas memiliki pendekatan berbeda dengan sejumlah model pengembangan maggot yang telah diterapkan di daerah lain.
Menurutnya, beberapa daerah di Indonesia, termasuk di Jawa Barat, telah mengembangkan pengolahan maggot.
Namun, model yang dibangun Unhas bersama Pemkot Makassar akan diarahkan secara lebih terintegrasi dengan sektor peternakan.
“Kalau di Indonesia ada dikembangkan teman-teman di Jawa Barat, tapi tidak seperti model kemitraan ini,” terangnya.
“Kalau kita sudah terintegrasi dengan peternakan. Jadi tidak perlu lagi kita berpikir ke mana-mana, yang penting efisien, masuk menjadi pakan,” tambah akademisi Unhas itu.
Sedangkan, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menyatakan mendukung penuh program tersebut.
Lanjut Appi, kolaborasi ini diharapkan tidak hanya membantu mengurangi beban sampah organik yang masuk ke sistem pengelolaan sampah kota, tetapi juga membangun rantai ekonomi baru berbasis pengolahan sampah, budidaya maggot, hingga penyediaan pakan ternak.
“Melalui pola ini, pengelolaan sampah tidak berhenti pada proses pengurangan volume sampah, tetapi dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem produktif yang melibatkan masyarakat, pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor peternakan,” singkat Appi. (*)












