Lebih jauh, Munafri menekankan bahwa pembangunan PSEL merupakan bagian dari upaya besar dalam memperbaiki sistem pengelolaan sampah di Kota Makassar.
Pria yang akrab disapa Appi itu, menyebut, persoalan sampah membutuhkan penanganan yang masif dan terintegrasi, tidak hanya bergantung pada satu metode.
“PSEL ini harus kita tangkap sebagai salah satu cara paling ampuh untuk mengurangi persoalan sampah,” katanya.
“Tapi perlu dipahami, berdasarkan hasil pembahasan, kontribusinya mungkin hanya sekitar 14 hingga 15 persen dari total penanganan sampah. Artinya, tetap harus ada langkah-langkah lain yang berjalan secara paralel,” lanjut Appi.
Karena itu, politisi Golkar itu menilai, pendekatan terbaik adalah memusatkan seluruh proses di kawasan TPA.
Selain memudahkan pengelolaan, hal ini juga akan mengoptimalkan efisiensi operasional, khususnya dalam proses transportasi sampah menuju fasilitas pengolahan.
“Kalau semuanya terpusat di TPA, kita tidak perlu lagi memindahkan sampah ke tempat yang jauh. Biaya transportasi bisa ditekan, dan itu tentu mengurangi beban pemerintah daerah,” tambahnya, meluruskan informasi.
Terkait persyaratan teknis pembangunan PSEL yang membutuhkan akses sumber air, Munafri memastikan bahwa lokasi TPA Tamangapa Antang telah memenuhi kriteria tersebut.
Appi menyebut keberadaan Sungai Kajenjeng yang berada tidak jauh dari lokasi menjadi salah satu faktor pendukung.
“Di belakang itu ada Sungai Kajenjeng, jaraknya kurang lebih sekitar satu kilometer. Jadi secara teknis masih sangat memungkinkan,” ungkapnya.
Dengan komitmen yang kuat dari pemerintah serta dukungan berbagai pihak, pembangunan PSEL di Makassar diharapkan menjadi salah satu solusi strategis dalam menjawab persoalan sampah secara berkelanjutan.
Munafri juga menegaskan bahwa tujuan utama pengelolaan sampah adalah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, memperbaiki kualitas lingkungan, serta mengubah sampah menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomis.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang terus didorong pemerintah. Dengan pengelolaan yang sistematis, diharapkan volume sampah yang masuk ke TPA dapat berkurang, sekaligus menekan dampak negatif terhadap lingkungan, seperti pencemaran udara, tanah, dan air.
Selain itu, pengolahan sampah juga membuka peluang ekonomi melalui produksi kompos dari sampah organik serta produk daur ulang dari sampah anorganik.
“Intinya, kita ingin pengelolaan sampah ini tidak hanya selesai di pembuangan, tapi juga memberikan nilai tambah, baik untuk lingkungan maupun ekonomi masyarakat,” tutup Munafri. (*)












